Confettis of words

the bits and sketches in life


Leave a comment

11 My Tokyo Trip Day 1-3

Tadinya, gak kepikir sama sekali untuk ke Jepang tahun ini karena Januari lalu kan gue udah ke Hong Kong (berarti target gue untuk satu negara baru tiap tahun sudah terpenuhi sebenarnya). Tapi kemudian ketika seorang temen dari Filipina bilang kalo doi punya tiket ekstra untuk konser Tohoshinki di Tokyo Dome, langsung lah gue bilang gue mau. Akhirnya pergi deh ke Jepang. Awalnya sempet was-was, takut uangnya gak cukup, takut gak dapet visa. Alhamdulillah semua kekhawatiran gak terbukti. Dapetin visa Jepang ternyata gak sesukar yang dibayangkan. Walau cuma empat hari (karena hari pertama bener-bener abis di jalan) dan cuma di Tokyo, gue menikmati waktu gue di Jepang.

First day

Gue berangkat Kamis pagi tanggal 13 Juni. Jam setengah sepuluh-an udah sampe di LCCT padahal pesawat ke Tokyo baru berangkat nanti jam setengah tiga siang. Alhasil harus nunggu selama sekitar lima jam di bandara yang gak terlalu besar ini. Nothing to see basically. Ngapain aja ya gue? Berusaha untuk baca novel, tapi setelah dua bab berhenti. Kemudian minum kopi, makan kue dan dimsum, browsing berkat wi-fi gratis dan corat-coret di travel logbook Moomin yang selalu gue bawa. Then the next flight to Tokyo took about seven hours. Tujuh jam, gimana bokong gue gak tambah ceper hahaha. Anyway, setelah makan (lagi), corat-coret (lagi) dan ngeliatin berbagai orang di sekitar gue, tujuh jam pun terlewati. Akhirnya mendarat di Tokyo!

Walau menghabiskan waktu lebih dari dua belas jam di jalan, badan langsung seger lagi dong begitu menginjakkan kaki di Haneda. Setelah melewati imigrasi dan pemeriksaan bea cukai, rasanya pengen lari-lari keliling bandara saking senengnya. Norak memang, tapi masih gak percaya kalau gue sampe di Jepang 😀 Tambah seneng lagi pas liat adek gue udah jemput. Yep, yang bikin kekhawatiran gue berkurang selama di Tokyo adalah karena adek gue memang lagi kuliah di sana. He taught me about many things to survive in Tokyo. Termasuk penggunaan toilet canggih mereka. Silly but true, saking canggihnya gue sempet rada bingung tombol mana yang harus ditekan hahaha.

tokyotrip-toyoko

Malam itu gue dan adek gue memutuskan untuk nginep di Toyoko Inn, di salah satu cabangnya yang lumayan deket dari Haneda. Mereka juga menyediakan free shuttle bus dari bandara, jadi gak harus naik taksi yang katanya mahal itu. Kamar twin-nya lumayan, dan fasilitas kayak kulkas, piyama dan hair-dryer ada. Dapet sarapan juga, kalo di Toyoko Inn 1 menyediakan sarapan ala Jepang, kalo di Toyoko Inn 2 sarapan ala Barat. Pas di seberang hotel juga ada Family Mart, where you can always go for cheap meals teehee. Oh iya, hotel ini juga cuma berjarak beberapa langkah dari stasiun Otorii.

Second day

Besoknya kami udah harus check-out dari hotel dan karena check in di hostel baru nanti jam empat, gue minta diantar ke Shibuya. Tujuannya? Tower Records dong 😀 Dan akhirnya bisa menyaksikan sendiri riwehnya ketika seabrek orang menyebrang ke sana ke mari di lampu merah Shibuya. Things even got even more dramatic because at that time it was drizzling and people were using their transparent umbrellas. It reminds me of a movie scene. Sesampainya di Tower Records, kami langsung disambut sama MV-nya Infinite. Ternyata Infinite baru rilis album Jepang mereka. Pantesan poster dan CD mereka menuhin seisi toko. Kalau gak inget gue cuma bawa koper ukuran sedang (dan inget isi dompet tentunya), mungkin gue udah menggila di Tower Records hahaha.

tokyotrip-hachikowall

tokyotrip-shibuya

Setelah beli beberapa CD titipan temen dan DVD, akhirnya gue dan adek gue mutusin untuk cari tempat ngopi. Di Tower Records sebenarnya ada cafe juga, tapi kayaknya harganya di atas rata-rata. Akhirnya kami pun ngopi di sebuah cafe ala Prancis di Shibuya Marks. Sambil nunggu adek gue sholat Jumat di sebuah musholla mini yang sebenarnya ruangan apartemen di sekitar situ, gue mutusin muter-muter di Tsutaya, toko CD dan rental DVD juga. Di sini CD artis Jepang lebih lengkap kayaknya? Setelahnya, baru kami makan siang di Sukiya. Menunya mirip sama Yoshinoya, but they have beef bowl with cheese, yayyy!

Untuk malam-malam berikutnya, gue tinggal di Toco Heritage Hostel di daerah Iriya atas rekomendasi dari seorang fan Tohoshinki. Lokasinya di daerah perumahan jadi sepi banget kalo malam hari. Enak sih, jadinya gue bisa tidur dengan mudah. Tampak luar, Toco keliatan kayak rumah biasa aja. But once you got inside, suasana tradisional Jepang kerasa, karena memang sensasi ini yang mereka tawarkan. Untungnya sensasi tradisional ini gak dibarengi dengan wujud Sadako ya, alhamdulillah~

tokyotrip-tocotokyotrip-insideoutsidetoco

Pemandangan di halaman belakangnya. Pengurusnya bilang kalo beberapa batu dibawa dari gunung Fuji. Kalau pagi-pagi enak banget duduk-duduk di sini, walau lumayan banyak nyamuk karena sudah masuk musim panas.

tokyotrip-tocobackyard

Gue nginep di dorm khusus cewek, semalamnya 3,000 yen atau sekitar 300 ribu rupiah. Lumayan lah ya untuk ukuran Tokyo. And here’s my bunk, maaf masih berantakan karena sepreinya belum dipasang. Pas gue ke sana, ke-enam bunk terisi penuh. Penghuni lain asalnya dari Jepang, Korea (who was the nicest) dan juga Singapura. Ini pertama kali gue nginep di dorm campur sama orang asing. Awalnya agak jengah sih, tapi lama-lama ya santai aja. Pelajaran baru tentang toleransi.

tokyotrip-bunk

I had a great time staying there. Pengurusnya baik-baik dan bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris dengan lancar. Letaknya juga strategis, deket stasiun Iriya dan Uguisudani dan beberapa convenience store. Gue juga milih hostel ini karena hanya berjarak sekitar lima stasiun dari Tokyo Dome. Buat yang suka minum, kalo malem lobby hostel ini berubah jadi bar kecil.

Sorenya, gue jalan-jalan sendirian karena adek gue ada urusan di kampus. Gue memutuskan untuk ke Ueno karena (menurut peta) jaraknya yang deket dari hostel. Tapi ternyata pas dijabanin jalan kaki cape ya boooooo. Ueno itu mungkin kayak Blok M ya. Seru sih, dan gue nemu toko yang jual alat tulis yang lucu-lucu. Pas hari terakhir gue juga nemu restoran tempura enak banget di sini.

Third Day

Hari konsernya, dan otomatis gue menghabiskan banyak waktu di Tokyo Dome City-nya (mengenai konsernya sudah dibahas di blog lain ya, ahem). Tokyo Dome City itu komplek hiburan untuk semua umur sebenarnya. Selain ada Tokyo Dome-nya, juga ada mal, deretan restoran dan taman hiburan. Yang suka One Piece dan Naruto pasti seneng banget karena ada toko khusus majalah Jump.

Karena konser baru dimulai nanti jam enam, gue diajak adek gue ke kampus dia, Tokyo University. Kata dia sih bisa dicapai dengan berjalan kaki dari Tokyo Dome. Emang bisa dicapai siiiiiih, tapi capenya gak kira-kira. Konser belum mulai aja kaki gue udah mau copot >< But we had great lunch! Kali ini gue diajak makan di restoran nasi-nasian lagi, tapi dengan lauk ikan mentah atau hidangan laut lainnya. Gue mesen nasi dengan ikan tuna mentah dan taburan rumput laut di atasnya. Jauh dari amis, ikannya seger banget!

Berbagai makanan yang gue cicipin pas di Tokyo. Bahkan makanan di konbini-nya sukses bikin gue ngiler hahaha. Yang di pojok bawah itu green tea frappucino with brown sauce cream (kayak gula jawa sebenarnya) dari cafe Nana yang menyediakan berbagai olahan teh hijau. Salah satu cabangnya ada di Ueno.

tokyotrip-food

Setelah makan siang, gue pun memutuskan untuk mampir ke Tokyo University dulu. Gedung-gedungnya banyak yang kuno, agak mengingatkan gue sama ITB. Yang bikin nyaman adalah pohon ada di mana-mana, and in summer, they’re green and lush. Bicara musim panas, hari itu lagi panas banget. Dan salahnya gue lagi pake kemeja flanel, makin mantap lah itu kegerahan. But it was fun, the heat that I will always remember lol.

tokyotrip-todaitrees

Tapi secape dan segerah apa pun gue, ketika sampai di hostel gue juga gak bisa langsung tidur. Sampe bunk masih cengengesan gak jelas, knowing that I’ve seen Tohoshinki live in Tokyo Dome