Confettis of words

the bits and sketches in life


2 Comments

39 The Biggest Lesson from 2014

Akhirnya gue memutuskan untuk menulis post ini karena ingin berbagi pengalaman dan semoga yang baca bisa belajar dari pengalaman gue ya. Udah sebulan lebih gue menjalani pengobatan untuk penyakit GERD. Tapi apa itu GERD? Singkatnya, kata dokter gue GERD itu penyakit ketika asam lambung terlalu banyak dan akhirnya naik ke kerongkongan (untuk detilnya, silahkan coba dicari sendiri ya). Asam di lambung itu memang berguna untuk mencerna makanan, tapi kalau jumlahnya berlebihan maka pada akhirnya akan mengganggu lambung itu sendiri. Nah, kalau dalam kondisi gue, asam itu naik sampai ke kerongkongan dan menimbulkan gejala yang mirip kayak sesak nafas dan dada rasanya kayak terbakar. Gue sampe sempet mengira kalo gue kena penyakit jantung (hampir semua yang kena GERD awalnya berpikir seperti itu).

Gejala pertama yang gue rasakan itu di bulan September. Pas lagi tidur, tiba-tiba gue kebangun karena dada rasanya gak enak, lemes dan mau muntah (walau gak sampe muntah). Gue kira gue masuk angin, dan akhirnya gue olesin minyak kayu putih. Semalaman itu pun gue gak bisa tidur nyenyak. Beberapa hari setelahnya gue pikir gue udah gak papa, walau entah kenapa ada perasaan cemas. Sampai dua minggu kemudian pas bangun dari tidur siang tiba-tiba gue merasa dada gue sesak. I seriously thought I was going to die. Gue langsung minta dibawa ke klinik terdekat. Pas diperiksa, dokter bilang tekanan darah normal dan debar jantung juga normal. Akhirnya beliau cuma kasih gue obat batuk karena beliau berpikir sesak di dadanya berkaitan sama itu.

Tapi kemudian sesaknya kambuh lagi. Rasanya susah banget buat narik nafas, dan gue juga batuk kering (yang ternyata iritasi dari asam lambung itu). Gue memutuskan untuk ke dokter lain. Dari dokter itu, gue dirujuk ke rumah sakit untuk periksa darah dan EKG (untuk memeriksa debar jantung). Hasilnya? Everything was okay. Dokter kedua ini kemudian ngambil kesimpulan mungkin gue stres. Beliau cuma menyarankan gue untuk gak minum kopi dan rajin olahraga.

Sayangnya gue masih merasa ada yang gak enak di dada. Gue sempet merasa lumayan tertekan, pake acara nangis-nangisan segala sama nyokap. It was a tough time indeed. Akhirnya setelah mendengar cerita dari temen gue yang kena GERD, gue memutuskan untuk langsung ke internis. Sebelumnya, dada gue dirontgen dulu untuk  mengecek kondisi paru-paru. Gue juga diminta untuk USG tenggorokan untuk melihat kondisi kelenjar tiroid. Setelah melihat hasilnya, dokter bilang gak ada yang salah sama paru-paru gue (they were clean, alhamdulillah) dan juga gak ada pembengkakan di kelenjar tiroid. Barulah setelah tau gue punya riwayat penyakit maag beliau coba ngasih gue beberapa macam obat untuk sepuluh hari. Yang pertama obat untuk muntah, lalu obat yang fungsinya melapisi/mengobati lambung dan yang terakhir untuk mengurangi kadar asam lambung. Ada yang diminum tiga kali sehari, ada yang dua kali sehari.

Alhamdulillah kerasa banget manfaatnya. Badan gue lebih enakan setelah minum obat-obatan itu. Tapi sayangnya, makanan gue masih belum terlalu dijaga. Meskipun gak minum kopi lagi, dalam sepuluh hari itu gue masih minum teh, teh susu dan makan mi instan. Hasilnya sesek di dada sempet kambuh lagi. Gue kembali ke dokter yang sama dan kali ini dia ngasih obat untuk jangka panjang, terutama obat penurun kadar asamnya untuk dosis sebulan.

Selain minum obat, gue juga bener-bener jaga makan dan minum. Sekarang gue makan tiga kali sehari, ditambah dua kali ngemil di sela-sela makan. Camilannya pun sebaiknya buah-buahan seperti pepaya dan apel (yang bersifat basa dan ‘melawan’ asam berlebihan di lambung). Gue hanya minum air putih. Awalnya susah, tapi ternyata bisa aja tuh hanya minum air putih (yang hangat atau yang bersuhu ruangan sebaiknya). Gue juga rajin minum madu murni setiap setelah makan. Yang gak kalah penting, gue olahraga jalan kaki keliling komplek minimal dua kali seminggu. Sesuatu yang tadinya jarang sekali gue lakukan. Cara makan juga diatur. Usahakan mengunyah 30 kali, minum baru setelah makan dan jangan berbaring sehabis makan. Kebiasan buruk banget ternyata kalo abis makan langsung tiduran. Harus tunggu paling nggak dua jam sebelum rebahan.

Alhamdulillah setelah menjalani ini semua kondisi gue berangsur-angsur semakin fit. Sesaknya perlahan-lahan hilang dan sekarang bernafasnya udah jauh lebih lega, walau belum seperti dulu lagi. Memang untuk bener-bener pulih butuh waktu yang gak sebentar karena selama ini kan gue ‘nyiksa’ lambung dalam jangka waktu lama. Sembuhnya pun gak bisa dengan sekejap.

Apa yang gue pelajari dari semua ini? Banyak tentunya. Gue sadar bahwa selama ini gaya hidup gue gak sehat. Gue tanpa sadar udah nyiksa lambung gue: minum kopi tiap hari (bahkan terkadang sehari dua gelas), begadang, makan makanan terlalu pedas (camilan ayam dari Taiwan itu loh) dan mi instan. Mana gue gak suka olahraga. Gimana tubuh gak makin kacau? Penyakit ini bikin gue harus mengubah gaya hidup. Tentu saja pertama-tama susah untuk melakukan hal-hal yang tadinya gak pernah dilakukan. Gue sempet mikir, ya ampun gimana caranya untuk lepas dari kopi? Tapi ternyata setelah dijalani bisa tuh.

Another difficult thing is to fight the anxiety. Sempat ada ketakutan-ketakutan kalau tiba-tiba kambuh pas lagi kerja atau pas lagi keluar. Ini normal kalau memang lo menderita penyakit kambuhan, tapi ini bisa dilawan. Gue banyak baca blog orang-orang yang juga kena GERD dan salah satu kunci untuk melawan GERD adalah selalu berpikir positif. Stres malah akan semakin menambah produksi asam di lambung. Jadi, jangan mensugesti diri dengan hal-hal buruk, selalu pikirkan hal-hal yang baik. It does work. Ini mungkin aneh, tapi sebelum tidur gue suka ‘bicara’ dengan lambung gue. Minta maaf kalau selama ini sudah sering menyakiti, and I try to cheer it up. Pasti sembuh kok, pasti bisa sehat dan kuat lagi, itu yang setiap malam gue katakan ke lambung gue. This self-suggestion miraculously works somehow 🙂

Di balik semua ini, gue bersyukur masih bisa kerja, punya keluarga dan temen-temen yang selalu mendukung, mendengar cerita, dan mengingatkan gue untuk jaga makanan. I feel so grateful for having them around (and I have WINNER who always makes me happy with their songs and dorkiness!). Gue percaya Tuhan Maha Baik kok. Dia gak akan kasih cobaan yang gak bisa dilalui sama umat-Nya. Gue percaya ini sentilan dari Tuhan supaya gue bisa lebih menjaga badan yang dititipkan ke gue dan jadi manusia yang lebih banyak bersyukur 🙂

Three cheers for a healthier year!