Confettis of words

the bits and sketches in life


Leave a comment

47 The Obligatory Birthday Post

Compared with last year, this year’s birthday is ordinary. I didn’t plan anything special like a birthday trip or a party with friends. I only went out with my family to have lunch together. However, it’s still something I should be thankful for, being surrounded by people I love the most and receiving greetings and kind wishes from friends.

In my opinion, birthday is something that we should celebrate. A time to celebrate our life. Yet I don’t really have the enthusiasm to have a huge celebration this year, knowing I’m still not in my best condition. Also, I think I’ve received the biggest gift from God. I’ve learned so much about life and people in the last few months, which I can’t specify one by one. This lesson has affected me emotionally and spiritually and hopefully, it has shaped me into a better person.

I don’t know what to write actually. I just feel that I need to write an obligatory birthday post, to record the moment. Or maybe I should say something to my 31-year-old self?

Dear my 31-year-old self, you haven’t achieved everything in the world, but you don’t have to. You’ve tried your best while you can and that’s what’s important. You’ve fallen down several times, but you’ve proven that you’re able to stand tall again and again. People might have hurt and left you, so be thankful for those who stay. Treat them nicely because they’re the ones who accept you for what you are. You’re broken and bent, far from being perfect but I’m glad to know that because it means you have a lot of opportunities to learn. Go read many good books, listen to good music and travel to many beautiful places. There are millions of awesome stuffs in this world and you deserve to devour them. I’m proud of you and I’m sure I will always be 🙂

Cheers!


Leave a comment

46 Book Review: The Door that Led to Where by Sally Gardner

thedoorthatled

The Door that Led to Where, novel terbaru dari Sally Gardner, memiliki beberapa unsur yang merupakan karakteristik dari novel-novel Gardner terdahulu. Seperti Maggot Moon dan The Red Necklace, tokoh utama novel ini adalah seseorang yang dianggap tidak istimewa di lingkungannya. AJ atau Aiden Jobey tidak diperhatikan oleh orang sekitarnya. Ibunya sibuk mengurusi ayah tirinya dan di sekolah prestasinya juga tidak istimewa. Hanya Elsie, tetangganya, dan kedua temannya Leon dan Slim yang peduli dengan AJ. Walaupun buntutnya Leon dan Slim sempat merepotkan AJ juga.

Kehidupan AJ berubah ketika ia mendapatkan pekerjaan di sebuah biro hukum. Tetapi begitu ia mengira kehidupannya akan berjalan lancar, ia menemukan kunci sebuah pintu, pintu yang bisa membawanya ke tahun 1830, London di zaman Ratu Victoria. Turun temurun kunci tersebut dipegang oleh keluarga AJ, dan kali ini ia harus menjalankan tugasnya: mengunci pintu tersebut sehingga masa lalu dan masa kini tidak lagi bisa berbenturan. Tapi sebelum mengunci pintu pemisah dua era itu, AJ harus menyelesaikan misteri pembunuhan keluarganya dan menyelamatkan seorang gadis cantik bernama Esme.

Gue selalu suka novel-novel yang bertemakan era Victoria, dan ketika tahu Gardner menggunakan London zaman Victoria untuk latar cerita, gue langsung tertarik. Charles Dickens juga beberapa kali diacu di dalam The Door that Led to Where karena AJ adalah penggemar berat Dickens. Meskipun tidak terlalu digambarkan dengan rinci, London zaman dulu di novel ini cukup Victorian, dengan nilai-nilai pergaulan dan referensi ke kasus-kasus yang biasa terjadi pada masa itu, misalnya pembunuhan dengan racun secara perlahan.

The Door that Led to Where enak dibaca, seperti novel Gardner lainnya. Sayangnya novel ini seakan dibuat terburu-buru. Ada beberapa hal yang menurut gue masih bisa dijelaskan lebih dalam (misalnya asal mula pintu merah itu). Di sisi lain, ada unsur cerita yang menurut gue terlalu gamblang diceritakan, contohnya kondisi kejiwaan seorang tokoh yang dengan cepat langsung dijabarkan dengan psikoanalisis Freud. Karakteristik salah seorang pelaku juga terlalu stereotipikal, yang membuat sisi feminis gue sedikit terusik.

Terlepas dari kekurangan novel ini, Gardner masih menjadi penulis novel young adult favorit gue. Gue suka karakter-karakternya yang berjuang dari kondisi yang terpinggirkan dan bagaimana dia selalu menulis novel dengan tema dan latar yang bervariasi. Gardner sudah membawa kita ke dunia distopis, Prancis zaman Revolusi, dan London era Victoria. Ke mana lagi dia akan membawa pembacanya di novel berikutnya?


Leave a comment

45 Port Cities and Me

I was born in Balikpapan, a city in East Borneo, and spent four years there before my family moved southward to Tanjung. From my house in Balikpapan, I could see the sea and the ships moving to and leaving the port. I think that scenery somehow grew in me and stayed in my brain.

Hongkong1

I hadn’t realized my fondness to port cities until I came to Hong Kong in 2013. Taking a bus from the airport, I witnessed a lot of big ships with sunset as the backdrop. It was such a splendid image I said to my self, “I’m gonna love this city.” And yes, I do, especially after I went to Avenue of Stars the next day. For some people there might not be something special from that spot, but I found myself amazingly in awe. When seeing the ships and the skyscrapers in front of me, I was strucked. I even almost cried because it was too beautiful (but I tried to hold the tears since there were too many people). Walking along the harbor was a nice experience too. And since it was in January the wind was pretty cold but I enjoyed each and every step I took at that place. Would love to go back to Hong Kong!

yokohama1

Another port city that has stolen my heart is Yokohama, where I celebrated my birthday last year. The moment I stepped out from the train station, I could already feel that the air was different from Tokyo. If Tokyo is basically odour-less, Yokohama smells of the sea. I managed to walk along the harbour too, inhaling the fresh sea breeze. The day was sunny but the wind was still quite strong. When we had our lunch in the park we had to brave the wind (and also the seagulls!). Eating while shivering was tough but unforgettable indeed 😀 Planning to go back to Japan this September for my bro’s graduation with my mom. I must take her to Yokohama for sure!

Yokohama2

You can categorize Singapore as a port city too actually, but so far I haven’t found a great spot to see the ships in Singapore. Any idea?

Visiting port cities as many as possible, maybe I should add that in my bucket list!


Leave a comment

44 Menginap di Tokyo dan Kawaguchiko

Kalau bepergian, gue bukan orang yang terlalu bawel untuk urusan akomodasi. Gue gak masalah kalau harus tinggal di dorm hostel, asalkan kasurnya enak ditiduri dan kamar mandinya bersih. Dua kali ke Jepang, gue pun tinggal di hostel/guest house karena memang harganya lebih cocok buat kantong gue. Semurah-murahnya harga kamar dorm di Tokyo sih sama aja kayak harga hotel bintang tiga di Bangkok. Total sudah empat hostel yang gue tinggali di Jepang, tiga di Tokyo dan satu di Kawaguchiko. Berikut ulasan singkat beserta foto-fotonya.

Toco Heritage Hostel, Tokyo

toco2

Waktu ke Tokyo tahun 2013, tujuan gue untuk nonton Tohoshinki di Tokyo Dome jadi gue memilih untuk tinggal di Toco yang berjarak beberapa stasiun saja dari Tokyo Dome. Dari stasiun Iriya, Toco bisa dicapai dengan jalan kaki sekitar 5 menit. Ke Ueno, pusat perbelanjaan dan taman kota, hanya berjarak jalan kaki 15 menit.

toco1

Kelebihan dari Toco adalah nuansa arsitektur tradisional yang ditawarkan. Lantainya dari kayu (yang kadang suka berderit kalau diinjak) dan di taman ada tumpukan batu, yang kata pemiliknya berasal dari gunung Fuji. Kalau pagi udara di Toco seger banget karena lumayan banyak pohon. Pemilik dan pengurus Toco juga lancar bahasa Inggrisnya jadi gak ada masalah dalam berkomunikasi (sampai saat ini bahasa Jepang gue masih sangat terbatas soalnya, maaf huhuhu). Kalau mau nyari sarapan juga mudah karena ada minimarket yang berjarak 5 menit saja.

toco3

Sayangnya Toco punya jam malam untuk urusan mandi. Jadi buat kamu yang doyan mandi malam (ya kali aja), peraturan ini sepertinya akan memberatkan. Satu lagi, kalau malam lobi Toco berubah jadi bar. Memang dari dorm cewek suara-suara dari lobi gak terlalu kedengeran, tapi kalau kamu gak suka keramaian mungkin ini juga akan jadi masalah.

Yadoya Guesthouse, Tokyo

Gue memilih Yadoya karena mudah dijangkau dari Yoyogi National Stadium, tempat konser 2PM tahun lalu. Stasiun terdekat Nakano bisa dicapai dalam waktu 5 menit saja. Tapi karena waktu itu suhunya sempat 8°c, gue si gadis tropis ini jadi jalan males-malesan dan butuh waktu lebih lama untuk sampe ke stasiun. Di depan Yadoya ada minimarket dan di ujung jalan ada kantor pos kalau kamu mau kirim kartu pos atau menarik uang dari ATM. Yadoya juga berjarak 10 menit dari pusat perbelanjaan dan jajanan Nakano.

yadoya1

Waktu itu gue tinggal di kamar privat untuk dua orang. Di sini gak enaknya Yadoya karena kamarnya kecil banget. Untuk packing aja gue harus gantian sama temen gue. Harganya juga murah sih jadi gak bisa nuntut banyak. Wastafel yang di lantai gue juga gak ada air panasnya, jadi buat wudhu sholat subuh gue harus ke wastafel lantai bawah.

K’s House Mount Fuji, Kawaguchiko

khousefuji2

Kawaguchiko adalah kota di kaki gunung Fuji. Bersih, damai tapi dinginnya minta ampun karena gue ke sana pertengahan Maret. Sisa-sisa salju pun masih ada. Di kota ini kami tinggal semalam di K’s House. Kami tidur di kamar untuk empat orang. Kamarnya besar, cukup buat dua bunk bed dan ada space yang luas di antaranya. Kamar mandinya bersih dan ruang bersamanya juga gede. Selain itu, K’s House juga menyewakan sepeda karena cara terenak untuk mengelilingi kota ya dengan sepeda.

khousefuji1

Kekurangannya apa ya? Sejauh ini gue merasakan gak ada sesuatu yang mengecewakan dari K’s House. Tempatnya sangat nyaman dan pemiliknya ramah 🙂 Oh iya, jarak dari K’s House ke stasiun cukup jauh jadi sebaiknya minta dijemput saja.

K’s House Asakusa, Tokyo

Pulang dari Kawaguchiko, kami tinggal di cabang K’s House di Asakusa. Di depannya ada 7-11 dan jalan kaki lima menit ada restoran gyudon 24 jam. Stasiun terdekatnya adalah Kuramae dan bisa dicapai dalam waktu sekitar 5 menit jalan kaki. Ke Asakusa-nya cuma 15 menit jalan kaki.

Begonya gue lupa untuk foto kamar di cabang Asakusa ini padahal gue nginep dua malam di sana! Jadi lihat fotonya di situsnya aja ya. Yang pasti kamar untuk tiga orangnya bernuansa biru, nyaman dan ada televisinya kalau berminat nonton acara TV Jepang yang terkadang suka ajaib.


Leave a comment

43 The Black Turtleneck or How I Learn to Adapt to The Changes

This morning was a bit chilly so I thought it would be perfect to wear the black turtleneck that I bought several weeks ago. But then I decided not to. Because when I looked at myself in the turtleneck, I was scared. I was scared with the reflection of my body in the mirror. It’s something that I wasn’t familiar with. My body looks so thin, and the fact that the turtleneck is black makes it even look smaller.

I’ve lost 6 kilos since I changed my diet in January. My trousers are all loose now, so are the shirts. But appearance-wise, I hadn’t been really aware about this until people came to me and they noticed I’ve lost some weight. Some even looked at me with these pitiful eyes. Sometimes I appreciate this kind of attention, sometimes it bothers me a bit. Not that I hate it, but the more they say I’m thinner, the more I become terribly aware about it.

There are times when I feel fragile with this current body condition, especially when I look at how bony my legs are. But at the same time, I believe my body is turning healthier. Obviously, it’s less sluggish. Also, since I drink a lot of water and eat more veggies and fruits, my body feels clean. I experience something new in my body.

Of course in the beginning it was hard to adopt these changes in food menu and other new routines to improve my health. Yet I’m willing to learn. Not only help me get better after GERD  but I think this will also be a great health investment for the future.  My bucket list is still long, and having a healthy body (and mind of course) is an absolute requirement to be able to do a lot of things.

Back to the turtleneck, I think it’ll stay in my closet for a while. I need extra confidence to wear it and not to be horrified by my own reflection. For the time being, I’m just gonna learn how to accept and appreciate the changes in my body.