Confettis of words

the bits and sketches in life


Leave a comment

90 My Concert Story: venues in Ho Chi Minh, Hong Kong and Bangkok

Lanjut lagi ke cerita tentang venue yang pernah gue kunjungin, dan kali ini tiga venue di tiga negara. Gue akan mulai dari satu venue yang paling berkesan buat gue. Kesan buruk tepatnya hahaha. Kalau mengingat-ingat pengalaman gue di venue ini suka ketawa pedih sendiri. Tapi namanya pengalaman ya, ambil aja hikmahnya .

Stadion Go Dau – Ho Chi Minh

Tahun 2011 gue baru kenal K-pop dan semangat masih membara, Super Junior pun gue kejar sampai Vietnam. Konser di Ho Chi Minh adalah finale untuk Super Show 3, jadi kami pikir kami harus mengerahkan seluruh tenaga dan daya untuk bisa nonton ke sana. Sampai sana lumayan kaget karena venue-nya kayak stadion bola. Bukan kayak lagi, emang stadion bola! Sebenarnya gak apa-apa asalkan nyaman, tapi yang kami temui malah membuat kami cemberut sepulang dari konser.

go dau stadium

Dari pusat Ho Chi Minh ke Go Dau saja membutuhkan waktu sejam lebih. Untungnya pihak promotor menyediakan bus gratis ke venue, walau awalnya kami sempat bingung kami mau dibawa ke mana sebenarnya karena kami melewati kota kecil dan sungai. Di sekitar stadion tidak banyak tempat makan. Bahkan gue gak ingat apakah ada mini market atau gak di dekat stadion. Tidak ada tempat menunggu/duduk-duduk di sekitar konser. Tempat duduk di dalam stadion juga sebagian besar tidak beratap. Alhasil, kami kehujanan sampai basah kuyub malam itu. Jarak dari tempat duduk ke panggung juga jauuuuh sekali, seperti bisa dilihat di foto. Tapi ini tahun 2011 ya, jadi mungkin sekarang sudah banyak perkembangan.

Vietnam sebenarnya merupakan pangsa pasar K-pop yang potensial, tapi sepertinya belum ada promotor yang benar-benar mapan dan venue yang bagus untuk konser dengan skala besar.

Fasilitas lain: Ngg, I can’t remember any to be honest.
Cara ke sana: sewa kendaraan, taksi (pastinya mahal sekali sih) atau bus yang disediakan oleh promotor

Asia World Arena – Hong Kong

Ini adalah salah satu venue favorit gue karena fasilitasnya yang lengkap. Asia World Arena adalah hall terbesar dari Asia World Expo yang memang biasa digunakan untuk konser. Meskipun terletak cukup jauh dari pusat kota Hong Kong, venue ini mudah dicapai dengan bis dan kereta. Selesai konser bus-bus ke berbagai jurusan pun sudah langsung tersedia di depan venue. Di sini juga tidak usah takut kelaparan karena terdapat beberapa restoran dan cafe di dalam Expo.

asia world arena 1

Yang gue suka dari venue ini adalah ukurannya yang tidak terlalu besar sehingga jarak pandang ke panggung nyaman. Sewaktu menonton konser TVXQ tahun 2013, gue mendapat tiket di kelas festival, dan karena panggung tidak dibuat terlalu tinggi, gue bisa melihat ke panggung dengan mudah. Area menunggu di venue ini juga nyaman, biasanya di hall lain yang sedang tidak digunakan. Sedari awal antrian sudah dibagi berdasarkan area, dan ketika konser akan dimulai, satu persatu barisan digiring oleh sekuriti untuk dimasukkan ke area konser. Menonton konser di Hong Kong adalah salah satu pengalaman ternyaman gue menonton konser 🙂

asia world aren 2

Fasilitas lain: dekat dengan airport dan beberapa hotel berbintang, restoran, cafe
Cara ke sana: MTR dan bus

Impact Arena – Bangkok

Bangkok adalah salah satu favorit gue, tapi gue baru sekali loh menonton konser di sana. Tepatnya tahun 2015 lalu untuk konser TVXQ T1ST0RY. Salah satu venue terbesar di Bangkok adalah Impact Arena, yang sayangnya terletak cukup jauh dari pusat kota. Dan sayangnya lagi, jalur MRT belum mencapai daerah ini. Karena khawatir dengan transportasi pulang setelah konser, gue memutuskan untuk menginap di guest house yang berjarak 20 menit jalan kaki dari venue. Sembari menunggu konser mulai, penonton bisa makan dan duduk-duduk di sekitar venue karena terdapat banyak kios makanan dan restoran mulai dari yang murah sampai yang mahal.

Impact-Arena

cr: Bangkok Scoop

Venue-nya sendiri cukup nyaman untuk konser berskala menengah sampai besar. Waktu itu gue dapat tempat duduk di tribun lantai satu yang tepat menghadap panggung, dan panggung bisa dilihat dengan sangat jelas. Tapi, menurut cerita teman-teman yang menonton dari tribun yang lebih atas, pemandangan di atas panggung tetap terlihat jelas. Satu hal lagi, area floor di Impact Arena lumayan luas, jadi waktu itu TVXQ bisa dengan mudah mengelilingi venue dengan menggunakan kart. Area yang luas ini juga memungkinkan variasi bentuk panggung sehingga desain konser bisa jadi lebih maksimal.

Fasilitas lain: kios makanan, restoran, hotel Novotel yang berjarak lima menit dari venue
Cara ke sana: dari pusat kota bisa dengan taksi atau menyewa mobil

(Berikutnya tentang venue di Singapura ya!)


2 Comments

89 What I read: January and February 2016

My reading resolution for this year is to be able to finish 25 books. I guess I started it quite well by reading 5 books in two months despite my busy schedule (though actually I’m sure I could be faster!). So here are the books I managed to finish in January and February:

booksjanfeb2016

A Little Life by Hana Yanagihara

I had been tempted by the hype around this book, so when I saw it in Kinokuniya, I immediately grabbed it. I was interested by the premise: the friendship between four college friends set in New York.  However, as the story develops, it unfolds many intriguing things. The main character, Jude St. Francis, is a handsome guy with a complex personality. He’s experienced an abusive childhood and it has left a deep scar on his psychological condition. I love Yanagihara’s language in describing Jude’s conflicts and while I’ve never experienced the same thing, I felt somehow emotionally attached to him. I also find the charm from this novel through Jude’s interaction with the people around him.

What I didn’t really enjoy from this book is that some scenes are too graphic, too disturbing. But I guess the details are needed to show how traumatic Jude’s experience is. I also agree with some critics that A Little Life seems to detach itself from reality and context. The story happens in New York in a span of several decades, but the plot never shows it clearly in what era the characters live. Is it before 9/11 or after 9/11? I know that fictional works don’t always have to refer to reality, but somehow this fact makes the novel seem to be isolated while actually it has the potential to be a great novel about New York urban life. Overall, reading A Little Life was a reading experience that involves a lot of emotion and I felt so drained (in a good way) after closing the last page. Rarely a book does that to me. Highly recommended.

And I’ll always keep this quote in my heart:

…things get broken, and sometimes they get repaired, and in most cases, you realize that no matter what gets damaged, life rearranges itself to compensate for your loss, sometimes wonderfully.

Everything I Never Told You by Celeste Ng

Everything I Never Told You is a story about family. Not just that, it also deals with racial and gender issues. James Lee is a second generation of Chinese immigrants. All his life, he always had to encounter stereotypes and racial prejudices from the society (the story set in early 60s and 70s when discrimination was still strong). He never became this popular kid at school. Meanwhile,  Marilyn was a smart, rebellious woman who can’t achieve her dream to be a doctor because of her marriage to James. Both of them have unaccomplished goals in life, and knowing they no longer have the capacity to achieve it, they ‘transfer’ their dream to their daughter, Lydia. But then Lydia is found drowned in the lake near their home. Their dream is crushed, and the story slowly tries to reveal to the readers what actually happens to Lydia.

Reading Everything I Never Told You is like watching a family movie with calm, soft colours and many silent scenes. The narration relies much on description of the actions instead of powerful dialogues. There is this one beautiful scene that focuses on Hannah (Lydia’s little sister) who in her naive way realizes what really happens around her siblings and in their family. I think this is Ng’s strength: the ability to reveal emotion of the characters through what they silently do. This debut novel convinces us that we need to watch more of Ng’s works in the future.

Lelaki Harimau by Eka Kurniawan

I don’t really read Indonesian literature that much, but I love Eka Kurniawan’s two novels, Cantik itu Luka and this one, Lelaki Harimau. The way he writes reminds me of Gabriel Garcia Marquez, and his technique in blending reality and magical sphere in his plot is amazing. Lelaki Harimau tells about a young man named Margio who wakes up in the morning and finds a white tiger next to him. Is the white tiger real or is it just a representation of Margio’s hidden desire? This is what makes Lelaki Harimau so psychoanalytically interesting. Kurniawan’s language is vulgar yet poetic. He always manages to narrate the conflicts of common people with the most unfamiliar, unexpected and violent way. Read the shocking last page of the Lelaki Harimau and you’ll know what I mean.

Maresi by Maria Turtschaninoff

I stumbled upon Maresi when I was browsing in Book Depository. Got immediately interested since it’s claimed as a feminist book. It’s the first book from The Red Abbey Chronicles, and it can be added into that list of young adult books with dark themes. The world in Maresi is the world when men take control over everything and women are stll buried alive for commiting adultery (well, somewhere in our world people still practice that …). Fleeing from poverty, Maresi goes to Menos, an island inhabited only by women. In this island, Maresi can satisfy her thirst to study and she learns the meaning of sisterhood. But then the peace in the island is disturbed when a group of men come and want to steal the treasure in The Abbey. Adding fantasy elements to her story, Turtschaninoff brings up relevant women issues and makes Maresi a powerful, gripping story. I can’t wait to read the next book in the chronicle, Naondel.

We Were Liars by E. Lockhart

I finished this book but gotta say it’s not my cup of tea. I think We Were Liars  is too pretentious. It tries hard to be emotionally dark but somehow it ends up too much for me. I also think the main character Cady is a spoiled white teenage girl. I can’t pity her at all. I should’ve written a detailed post why I can’t like this book. Too lazy for that though hahaha.

Going to Singapore next weekend, and I’ve already made a list of books that I wanna buy there. Having read the samples in Play Book, I’m thinking to buy London Belongs to Me by Norman Collins, The Dreamer by Pam Munoz Ryan and Euphoria by Lily King. Kinokuniya Takashimaya will make me broke, really broke.

 


Leave a comment

88 A Drop of Thoughts: Festivity in B.A.P’s Carnival

b.a.p-carnival

One word to describe B.A.P’s latest mini album Carnival: festive. Each track is fun, fresh and colourful. B.A.P are famous for their dark and fierce concept, as executed in their mini albums One Shot and Young, Wild, and Free. However, I don’t know what kind of formula they have in their lab but somehow they also have this ability to tackle a colourful and funky image. Carnival is another proof of how versatile their music is, and we always love this cheerful side of B.A.P.

The album opens with Today, an epic track that reminds me of Coldplay’s Viva La Vida. B.A.P often start their albums with a massive song like Intro in First Sensibility and Whut’s Popping in Badman EP, yet Today is different in a way that it uses an orchestra. Daehyun sings the song beautifully with his thick yet soft voice. It’s just a perfect opening song for an album that picks a carnival atmosphere as their concept. The next song is Carnival, a groovy track that commands you to jig, and we wonder why they didn’t select this as their single. I always have this deep affection for Himchan’s hoarse voice, and weirdly, the raspiness of his voice matches with the fun atmosphere of Carnival.

From the intro of Feel So Good, I thought the single would be another Take You There or Spy, but then the bass came and blew me away. This funky song is heavily influenced by the sound of 80’s hip hop. Zelo and Yongguk’s stylish rap builds the groove of the song, and Jongup’s voice in the chorus just hits it right. I also love how B.A.P look so playful in the MV. There isn’t any clear plot for the MV. The boys just sing, dance and play around, showing how they feel so good. And it feels so good for us Babyz to see B.A.P look this happy after what happened to them in late 2014.

Go is another cheerful track in the album. The oooh-part is really addictive, I must say. Meanwhile, Albatross opens with heavy electric guitar sound, and the beat of the song is so dynamic, it makes you wanna jump and head-bang to the song. Youngjae’s voice in this song steals my heart. After five upbeat songs, the party in Carnival has to end, and they chose to end it with My Girl, a love song with the right amount of sweetness.

Young, Wild, and Free is a mighty return after their painful hiatus, and Carnival convinces us that B.A.P won’t stop and will keep giving us powerful songs and meticulously-produced albums. For me, Carnival is a musically and visually solid comeback. With this album and the upcoming Live on Earth 2016 world tour, B.A.P are gonna rock your 2016 really hard.

Score: 4/5


2 Comments

87 My Concert Story: venues in Tokyo and Yokohama

Menonton konser di Jepang membutuhkan persiapan yang matang dan dana ekstra, tapi buat gue semua itu terbayarkan dengan pengalaman. Gue beberapa kali menonton konser di Jepang dan selalu terkesan dengan betapa rapi dan terorganisirnya alur antrian penonton. Hal lain yang gue suka, Jepang punya bermacam-macam venue, mulai dari ukuran besar (Dome) sampai ke yang ukuran kecil seperti Zepp.

tokyodome

Tokyo Dome adalah satu-satunya Dome yang pernah gue kunjungi, saat itu untuk konser “Time Tour”-nya Tohoshinki tahun 2013. Buat gue atmosfer Tokyo Dome sendiri  memang luar biasa, pas banget untuk konser berskala masif. Yang bikin tambah merinding ketika itu adalah cahaya dari lightstick Bigeast yang membuat Tokyo Dome menjadi samudera berwarna merah. Meskipun begitu, Tokyo Dome bukan venue favorit gue karena ya itu, terlalu besar. Waktu itu gue dapet kursi di lantai dua dan cuma bisa ngeliat Yunho dan Changmin dari layar saja hahaha. Kalau dapet kursi di floor sih enak ya, tapi biasanya wilayah itu khusus buat anggota fanclub Tohoshinki. Memang kalau pengen menyaksikan konser dengan tata panggung yang canggih dan megah, Tokyo Dome tempatnya. Tapi kalau mau melihat penampilnya dengan jelas, sebaiknya ke venue yang lebih kecil, misalnya di arena.

Stasiun terdekat: Suidobashi dan Korakuen
Fasilitas lain: Tokyo Dome Hall untuk konser skala kecil, taman bermain, mal LaQua, mal Meets Port, Tokyo Dome Hotel

yoyogi-stadium

Kali kedua gue ke Jepang, gue berkesempatan nonton di venue berukuran arena, Yoyogi National Gymnasium, kali ini konser Genesis of 2PM tahun 2014. Venue ini juga asik karena letaknya yang strategis. Harajuku dan Shibuya bisa dicapai dengan jalan kaki, jadi sebelum menonton konser bisa jalan-jalan dulu. Gue mengkategorikan Yoyogi National Stadium sebagai venue berukuran sedang. Walau gue duduk di lantai dua, gue masih bisa tuh melihat panggung dengan jelas. Serunya lagi, di luar pagar stadion, banyak sekali penjaja makanan tradisional Jepang. Sambil menunggu konser mulai, kita bisa duduk-duduk di tangga batu sembari mencicipi takoyaki atau dango. Sejauh ini gue gak ada keluhan berarti sama Yoyogi National Gymnasium, buat gue venue ini nyaman banget baik dari segi ukuran maupun fasilitas.

Stasiun terdekat: Meiji Jingumae
Fasilitas lain: dekat dengan taman Meiji Jingumae, Harajuku dan Shibuya

kanagawa

Venue yang lebih kecil adalah hall, misalnya Kanagawa Kenmin Hall di Yokohama. Tahun lalu gue nonton tur Jepang WINNER di venue ini. Walau berada di luar Tokyo, tapi posisinya hanya berjarak jalan kaki lima menit dari stasiun. Area menunggu di venue ini cukup nyaman. Kita bisa menikmati secangkir kopi dari Doutor (tepat di sebelah venue) sambil menikmati angin laut Yokohama yang sejuk. Karena ukuran venue yang kecil, lantai tiga pun tidak terasa terlalu jauh dengan panggung. Mata minus gue masih bisa melihat dengan nyaman ke panggung. Nah, yang gak serunya dari venue ini adalah ukuran panggung juga kecil. Terasa sekali aksi panggung juga menjadi tidak begitu leluasa karena keterbatasan panggung. Lain kali pengen nonton tur Jepang WINNER lagi, dan semoga mereka berkesempatan mendapatkan venue dan panggung yang lebih besar.

Stasiun terdekat: Motomachi-Chugakai
Fasilitas lain: lima menit jalan kaki dari Chinatown Yokohama

800px-Zepp_Tokyo

Source: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Zepp_Tokyo.jpg#

Beralih ke venue yang lebih kecil lagi, yaitu Zepp Tokyo. Gue pernah sekali ke venue ini untuk nonton showcase MBLAQ. Jarak ke panggung deket banget, gue sampai bisa melihat keringat Seungho! (gak juga sih) Tapi untuk showcase/fanmeeting yang banyak melibatkan interaksi dari penonton, Zepp memang cocok. Walau kecil, gak usah takut untuk berdesak-desakan di Zepp karena area berdiri diberi sekat-sekat yang nyaman untuk disandari. Yang sedikit merepotkan adalah Zepp Tokyo berada di Odaiba, jadi cukup membutuhkan waktu untuk pergi dari pusat Tokyo ke venue tersebut. But if you want to attend a concert or showcase with intimacy, Zepp is the place.

Stasiun terdekat: Tokyo Teleport
Fasilitas lain: Ferris Wheel, DiverCity Tokyo Plaza

Lain kali kalau ke Jepang, gue pengen banget nyoba nonton di venue lain di luar Tokyo, misalnya di Kyocera Dome (Osaka) dan Yokohama Arena. Semoga bisa ya, tahun 2017 ke Jepang buat konser kembalinya Tohoshinki, amiiin 🙂

(Untuk post berikutnya gue akan membahas venue-venue lain yang gue pernah kunjungi di Singapura, Bangkok, Hong Kong dan Vietnam)