Confettis of words

the bits and sketches in life

110 My 2017 Tokyo Trip

Leave a comment

Tahun 2017 ini gue balik lagi ke Tokyo untuk nonton konser SHINee. Tadinya pengen jalan-jalan keluar Tokyo juga, tapi karena cuma empat hari dan berangkat sendirian, akhirnya gue memutuskan untuk mengeksplor tempat-tempat yang belum pernah gue kunjungin sebelumnya di Tokyo. Belajar dari pengalaman tahun 2014 (pas gue berangkat di awal musim semi juga), kali ini gue mempersiapkan coat yang lebih tebal dan panjang dan juga membawa pelembab dengan tingkat kelembaban yang lebih tinggi. Tetap aja sih udara dinginnya sampe bikin kulit di ujung hidung gue mengelupas sedikit, tapi lebih mendingan lah dibandingkan tahun 2014 pas kulit muka gue jadi kering banget nget.

blog-1

Lounge di Oak Hostel Zen

Atas rekomendasi adek ipar gue, gue menginap di Oak Hostel Zen di daerah Uguisudani. I truly enjoyed my stay there! Hostelnya bersih, kamar dorm-nya gede, stafnya baik-baik dan sangat membantu, dan lokasinya hanya berjarak lima menit jalan kaki dari stasiun Uguisudani (Yamanote line). Dari airport sekitar 40 menit dan gue hanya berganti jalur sekali saja.

Cari makan di daerah ini juga mudah. Ada Family Mart yang posisinya dekat sekali dengan hostel, dan kalau jalan kaki ke arah stasiun ada Lawson. Beberapa restoran ramen dan soba juga mudah ditemukan. Taman Ueno juga dekat loh dari Oak Hostel Zen, jalan kaki 15 menit saja. Dan dari Taman Ueno sudah dekat ke pusat perbelanjaan Ueno dan beragam restoran bisa ditemukan di sini.

blog-15

The dining room

Setelah check-in dan makan siang, gue memutuskan untuk jalan-jalan ke Taman Ueno. Tujuan utamanya National Museum of Western Art. Tahun 2015 lalu gue gagal ke sana karena mereka sedang renovasi besar-besaran. Sejujurnya gue agak heran perbaikannya di sebelah mana karena interior dalam museumnya biasa aja? Tapi koleksi tetapnya lumayan oke sih. Alhamdulillah akhirnya bisa ngeliat lukisan Miro dan Monet dari dekat. Oh iya, tiket masuk untuk koleksi tetapnya hanya ¥430 saja.

monet

Yang lebih berkesan buat gue adalah The National Art Center, Tokyo. Arsitektur gedungnya bagus dengan langit-langit yang tinggi dan rangka jendela yang terlihat kokoh. Dua pameran yang gue incer adalah pamerannya Yayoi Kusama dan Alphonse Mucha. Harga tiket masing-masing pameran 1600, tapi karena gue beli keduanya sekaligus dapat potongan harga 200 yen (lumayan buat beli minum). Stasiun terdekat dari NACT adalah Nogizaka, yang mempunyai akses langsung ke museum.

blog-14

Meskipun hari Senin, museum tetap ramai. Gue sampai harus mengantri 15 menit ketika membeli tiket masuk (dan mengantri 15 menit juga untuk bayar di toko goods-nya). Yang ramai dikunjungi tentu saja pameran Yayoi Kusama. Gue gak terlalu paham seni tapi memang lukisan-lukisan Yayoi Kusama itu sangat eye-catching. Warna-warnanya menarik dan the details are amazing. Gue juga sempat masuk ke The Infinity Room, yang sempet bikin gue panik karena di tengah-tengah ruangan lampunya mati? I dunno, mungkin itu bagian dari pamerannya.

blog-6

blog-10

Lukisan-lukisan Alphonse Mucha bikin gue mangap terkagum-kagum (gak usah dibayangin) saking gedenya. Karena ukurannya yang luar biasa itu, gue mikir gimana caranya lukisan-lukisan itu dibawa dari Praha ke Tokyo. Ternyata lukisannya digulung, dan ini sempat menyebabkan kontroversi di rakyat Ceko yang takut lukisan Mucha bakal rusak. As you can see, itu gede-gede banget. Yang gue paling suka sebenarnya adalah warna-warna dreamy pastel yang digunakan Mucha (beda banget sama poster-posternya yang warnanya lebih tegas).

blog-8

Btw, salmon sandwich di Cafeteria Carre enak banget! Kopinya juga oke, jadi setelah puas liat-liat pameran dan lapar, coba deh makanan dan minuman di kafenya. Ada beberapa restoran lain di NATC, tapi kafe ini yang harganya terjangkau.

Sehari sebelum konser seorang teman mengajak gue main ke Daikanyama (satu stasiun dari Shibuya). Di daerah ini banyak toko-toko kecil hip yang harganya sebenarnya mahal-mahal juga. Tujuan utama kami adalah Daikanyama T-site, versi mewah dari toko Tsutaya. Konsepnya adalah perpustakaan, tapi ada juga buku-buku dan majalah yang bisa kita beli. Koleksi bukunya kebanyakan buku seni dan fotografi. Di lantai bawahnya terdapat Starbucks kalau kita ingin baca-baca sambil ngopi.

blog-3

blog-4

Sebelum konser (fan-account konsernya bisa dibaca di blog lain ya), gue sempet menghabiskan waktu di Omotesando yang memang dekat dari Yoyogi. Adek gue ngajak makan ke restoran Heiroku Sushi yang sebenarnya enak, tapi harganya lebih mahal dari Hama Zushi. Memang beda sih, kalau ini kan restoran sendiri, Hama Zushi is a chain restaurant. Tapi setelah dihitung-hitung harganya kayak harga Sushi Tei di Indonesia. (Setelah makan siang tentu saja kami ke Magnolia Bakery untuk banana pudding-nya yang fenomenal!)

sushi-omotesando

Empat hari memang gak cukup untuk menjelajahi Tokyo. Tentu saja gue pengen kembali ke Jepang (untuk Tohoshinki Dome Tour mungkin?), dan lain kali coba konser di tempat lain ya, Yu. Osaka kek gitu, biar bisa jalan-jalan di tempat baru. Even though it was short, it was a fun trip! I went to an awesome, memorable concert, visited amazing exhibitions, met new people and enjoyed my solitary time as well.

blog-13

ps 1: walaupun cerah, anginnya nusuk banget sampe ke tulang pipi. Lesson learned, lain kali bawa masker dan beanie sekalian.

ps 2: tumbenan gue gak menggila di Loft, alhamdulillah uang selamat ya.

Advertisements

Author: a!

I just love pouring words that have been floating inside my brain. Mostly the words are about music, concerts, books and travelling.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s