Confettis of words

the bits and sketches in life


Leave a comment

111 My 2017 Hong Kong Trip

Setelah empat tahun akhirnya gue kembali lagi ke Hong Kong! Walaupun liburan kali ini hanya sebentar (tujuan gue sebenarnya untuk nonton konser SHINee), I enjoyed every minute of it. Tadinya sempat maju mundur, jalan gak ya? Karena gue baru balik dari Jepang, gue pikir secara finansial akan susah untuk pergi lagi karena biaya di Hong Kong memang tergolong mahal untuk Asia. Tapi setelah menghitung-hitung dan menghemat sana sini, akhirnya gue memutuskan untuk berangkat. Nekat aja deh ya, terus bulan depan nangis bayar tagihan kartu kredit hahaha.

blog-9

A bit cloudy but this is the view of this city that I always love.

Anyway, alhamdulillah biaya liburan kali ini bisa berhemat dari tiket pesawat. Untuk beberapa penerbangan langsung (gue sebisa mungkin menghindari penerbangan langsung karena makan lebih banyak waktu), harga tiket berkisar antara 5-6 juta rupiah. Setelah rajin mengecek beberapa airline dan biro perjalanan, gue akhirnya mendapatkan tiket China Airlines dengan harga setengah dari penerbangan langsung lainnya. Gue baru sekali naik China Airlines dan ternyata enak kok! Penerbangan pulang perginya lancar (jarang sekali ada guncangan) dan makanan khusus Muslim-nya enak! Oh iya, kalau ingin memesan menu khusus harus dua hari sebelumnya supaya bisa dimasukkan ke sistem mereka.

blog-7

Mencari akomodasi murah tapi enak di Hong Kong menurut gue susah-susah gampang. Di Hong Kong memang tanah terbatas dan harga penginapan bisa sangat mahal, dibandingkan dengan Bangkok contohnya. Gue pernah tinggal di hostel di daerah Mongkok dan kamar untuk satu orangnya kecil sekali. Kali ini gue nginep di Hop Inn Mody di daerah Tsim Sha Tsui. Gue memutuskan untuk nginep di sini karena lokasinya strategis (dari airport tinggal naik bus sekali) dan harganya lumayan. Gue memesan langsung di situs hostelnya dan biaya dua malamnya 486 HKD, atau dengan kurs sekarang sekitar 834 ribu. Dorm untuk perempuannya nyaman, ada jendela, dan kamar mandi juga ada di dalam. Hostel ini juga dekat dengan mal K11, coffee shop N1 dan beberapa 7-11. Jadi gampang banget nyari makanan di sini. Dari hostel ini juga bisa jalan kaki ke Avenue of Stars, mal terbesar di Hong Kong Harbour City dan masjid Tsim Sha Tsui. Selain itu, ada dua stasiun MTR di sekitar hostel, Tsim Sha Tsui dan East Tsim Sha Tsui. Location-wise, it’s very strategic.

blog-3

The female dorm in Hop Inn Mody

blog-2

The common room

Setiap liburan, ada 3 tempat yang selalu gue cari: toko buku, coffee shop sama museum/galeri. Dari hasil googling, gue menemukan di dekat Harbour City ada toko buku Eslite. Selain toko buku, Eslite juga menjual berbagai produk desain dan produk skin care lokal. Di dalamnya juga ada coffee shop dan juice bar. Buat gue tempat ini nyaman banget dan dari jendela tokonya, kita juga bisa melihat pemandangan di pelabuhan.

blog-6

blog-8

Untuk coffee shop, gue sempat ke chain lokal yang cabangnya ada di mana-mana, Pacific Coffee. Harga segelas iced coffee lattenya 34 HKD. Enak sih tapi menurut gue standar. Gue juga mampir ke The Coffee Academics di Harbour City. Nah kalau ini harga kopinya jauh lebih mahal (50 HKD) tapi memang mantap! Gue juga mesen cranberry scone (30 HKD) yang harganya nggak bohong. Tekstur scone-nya pas dan selai-nya juara!

blog-15

blog-16

nice quote, eh?

Gue juga nyoba sarapan ala Hong Kong di Tsui Wah (kebetulan ada cabangnya di Tsim Sha Tsui). Menu makanannya cukup beragam dan porsinya besar. Gue mesen set yang isinya telur urak-arik, sop makaroni, roti dan daging sapi asap. Kenyang banget pastinya. Gue juga ngerasain milk tea khas Hong Kong! Kalau ini rasanya terlalu kental buat gue.

blog-10

blog-17

Kebetulan liburan kali ini juga bertepatan dengan pameran Joan Cornellà. Pamerannya diselenggarakan di Space 27, dekat stasiun Quarry Bay. Pas sampai sana agak kaget karena ternyata tiketnya harus dibeli online! Gue langsung buru-buru beli tiketnya di situs Ticketflap dan untungnya tiketnya dalam bentuk digital jadi tinggal diunduh di hp. Karya Joan Cornellà banyak membahas isu-isu sosial masyarakat modern, terutama budaya selfie (as you can see from the statue). I actually found some of his works disturbing but overall it’s a great exhibition 🙂

blog-11

blog-13

blog-12

Lagi-lagi perjalanan singkat di Hong Kong, jadi gue belum sempat ke Disneyland dan Victoria Peak huhuhu. Lain kali pengen balik lagi dan jalan-jalan lebih lama!

(tentang konser SHINee-nya kalau gak males akan ditulis di post sendiri ya)


Leave a comment

110 My 2017 Tokyo Trip

Tahun 2017 ini gue balik lagi ke Tokyo untuk nonton konser SHINee. Tadinya pengen jalan-jalan keluar Tokyo juga, tapi karena cuma empat hari dan berangkat sendirian, akhirnya gue memutuskan untuk mengeksplor tempat-tempat yang belum pernah gue kunjungin sebelumnya di Tokyo. Belajar dari pengalaman tahun 2014 (pas gue berangkat di awal musim semi juga), kali ini gue mempersiapkan coat yang lebih tebal dan panjang dan juga membawa pelembab dengan tingkat kelembaban yang lebih tinggi. Tetap aja sih udara dinginnya sampe bikin kulit di ujung hidung gue mengelupas sedikit, tapi lebih mendingan lah dibandingkan tahun 2014 pas kulit muka gue jadi kering banget nget.

blog-1

Lounge di Oak Hostel Zen

Atas rekomendasi adek ipar gue, gue menginap di Oak Hostel Zen di daerah Uguisudani. I truly enjoyed my stay there! Hostelnya bersih, kamar dorm-nya gede, stafnya baik-baik dan sangat membantu, dan lokasinya hanya berjarak lima menit jalan kaki dari stasiun Uguisudani (Yamanote line). Dari airport sekitar 40 menit dan gue hanya berganti jalur sekali saja.

Cari makan di daerah ini juga mudah. Ada Family Mart yang posisinya dekat sekali dengan hostel, dan kalau jalan kaki ke arah stasiun ada Lawson. Beberapa restoran ramen dan soba juga mudah ditemukan. Taman Ueno juga dekat loh dari Oak Hostel Zen, jalan kaki 15 menit saja. Dan dari Taman Ueno sudah dekat ke pusat perbelanjaan Ueno dan beragam restoran bisa ditemukan di sini.

blog-15

The dining room

Setelah check-in dan makan siang, gue memutuskan untuk jalan-jalan ke Taman Ueno. Tujuan utamanya National Museum of Western Art. Tahun 2015 lalu gue gagal ke sana karena mereka sedang renovasi besar-besaran. Sejujurnya gue agak heran perbaikannya di sebelah mana karena interior dalam museumnya biasa aja? Tapi koleksi tetapnya lumayan oke sih. Alhamdulillah akhirnya bisa ngeliat lukisan Miro dan Monet dari dekat. Oh iya, tiket masuk untuk koleksi tetapnya hanya ¥430 saja.

monet

Yang lebih berkesan buat gue adalah The National Art Center, Tokyo. Arsitektur gedungnya bagus dengan langit-langit yang tinggi dan rangka jendela yang terlihat kokoh. Dua pameran yang gue incer adalah pamerannya Yayoi Kusama dan Alphonse Mucha. Harga tiket masing-masing pameran 1600, tapi karena gue beli keduanya sekaligus dapat potongan harga 200 yen (lumayan buat beli minum). Stasiun terdekat dari NACT adalah Nogizaka, yang mempunyai akses langsung ke museum.

blog-14

Meskipun hari Senin, museum tetap ramai. Gue sampai harus mengantri 15 menit ketika membeli tiket masuk (dan mengantri 15 menit juga untuk bayar di toko goods-nya). Yang ramai dikunjungi tentu saja pameran Yayoi Kusama. Gue gak terlalu paham seni tapi memang lukisan-lukisan Yayoi Kusama itu sangat eye-catching. Warna-warnanya menarik dan the details are amazing. Gue juga sempat masuk ke The Infinity Room, yang sempet bikin gue panik karena di tengah-tengah ruangan lampunya mati? I dunno, mungkin itu bagian dari pamerannya.

blog-6

blog-10

Lukisan-lukisan Alphonse Mucha bikin gue mangap terkagum-kagum (gak usah dibayangin) saking gedenya. Karena ukurannya yang luar biasa itu, gue mikir gimana caranya lukisan-lukisan itu dibawa dari Praha ke Tokyo. Ternyata lukisannya digulung, dan ini sempat menyebabkan kontroversi di rakyat Ceko yang takut lukisan Mucha bakal rusak. As you can see, itu gede-gede banget. Yang gue paling suka sebenarnya adalah warna-warna dreamy pastel yang digunakan Mucha (beda banget sama poster-posternya yang warnanya lebih tegas).

blog-8

Btw, salmon sandwich di Cafeteria Carre enak banget! Kopinya juga oke, jadi setelah puas liat-liat pameran dan lapar, coba deh makanan dan minuman di kafenya. Ada beberapa restoran lain di NATC, tapi kafe ini yang harganya terjangkau.

Sehari sebelum konser seorang teman mengajak gue main ke Daikanyama (satu stasiun dari Shibuya). Di daerah ini banyak toko-toko kecil hip yang harganya sebenarnya mahal-mahal juga. Tujuan utama kami adalah Daikanyama T-site, versi mewah dari toko Tsutaya. Konsepnya adalah perpustakaan, tapi ada juga buku-buku dan majalah yang bisa kita beli. Koleksi bukunya kebanyakan buku seni dan fotografi. Di lantai bawahnya terdapat Starbucks kalau kita ingin baca-baca sambil ngopi.

blog-3

blog-4

Sebelum konser (fan-account konsernya bisa dibaca di blog lain ya), gue sempet menghabiskan waktu di Omotesando yang memang dekat dari Yoyogi. Adek gue ngajak makan ke restoran Heiroku Sushi yang sebenarnya enak, tapi harganya lebih mahal dari Hama Zushi. Memang beda sih, kalau ini kan restoran sendiri, Hama Zushi is a chain restaurant. Tapi setelah dihitung-hitung harganya kayak harga Sushi Tei di Indonesia. (Setelah makan siang tentu saja kami ke Magnolia Bakery untuk banana pudding-nya yang fenomenal!)

sushi-omotesando

Empat hari memang gak cukup untuk menjelajahi Tokyo. Tentu saja gue pengen kembali ke Jepang (untuk Tohoshinki Dome Tour mungkin?), dan lain kali coba konser di tempat lain ya, Yu. Osaka kek gitu, biar bisa jalan-jalan di tempat baru. Even though it was short, it was a fun trip! I went to an awesome, memorable concert, visited amazing exhibitions, met new people and enjoyed my solitary time as well.

blog-13

ps 1: walaupun cerah, anginnya nusuk banget sampe ke tulang pipi. Lesson learned, lain kali bawa masker dan beanie sekalian.

ps 2: tumbenan gue gak menggila di Loft, alhamdulillah uang selamat ya.


Leave a comment

81 Tokyo Trip 2015 (part 2)

Day 3:

It’s my brother’s graduation today so we all went to Tokyo Daigaku. It started drizzling since early in the morning and stayed that way until late afternoon. I mean it didn’t rain hard but since it lasted long it’s kinda annoying. Anyway, the graduation ceremony was held only in a small hall. Different from graduation ceremony in Indonesia that usually lasts for hours and is full of many speeches, the one that I attended in Tokyo was short. It started at 10 and finished at 11.15.

todai-2

todai-3

todai

After the graduation, we went to Ginhachidon for lunch. It’s a restaurant that serves rice with seafood on its top, located across the university. I ordered rice with salmon, minced tuna and scallions for JPY 500. The tuna wasn’t cooked but it tasted really fresh. The rice was served with miso soup, as you can see in the photo.

ginhachidon

The next place that we visited was Ginza, since I had never been there and I’d like to go to Loft. Different from Loft in Shibuya that consists of many levels, the one in Ginza only has one level. As expected, I went crazy there and bought many stuffs, from make-up to notebooks. I could spend hours only in Loft, to be honest! Muji is also right on the top of Loft, and this one in Ginza also has Muji cafe. We also stopped at the biggest branch of Uniqlo here in Tokyo. Since it offers many choices, I surrendered to the temptation and bought a pop-art bag and a skirt *sigh*

atginza

My brother had a plan to visit one cafe everyday before we left Tokyo, and today we had some coffee at Doutor, still in Ginza. For this autumn, they serve Marron Latte, coffee with chestnut syrup. It’s too sweet for my taste actually, but it’s quite comforting for the rainy day. This branch of Doutor  isn’t really big but I found it comfortable since it’s not located in the main street thus the atmosphere is calm and quiet.

doutorginza

doutor

That day we had dinner at Hamazushi in Kita Ayase, 20 minute walk from my brother’s apartment. It’s a sushi restaurant that sells sushi for JPY 100 per plate! It was delicious, and I think we ate around 30 plates (the people at the table next to us ate around 70 plates. CRAZY)? I also ate sea urchin sushi for the time, recommended by my sister in law. I didn’t like it hahaha. The highlight from the dinner was actually the dessert, egg pudding. The pudding was so soft, creamy without being too thick. I could eat this everyday, really!

hamazushi2

hamazushi1

eggpudding

Day 4:

Since it’s bright outside, we decided to have picnic at Ueno Park and visit Ueno Zoo! We bought our lunch at a supermarket then after that we’re looking for a nice place to sit and eat. We found a perfect spot near the pond. Even though it’s turning cloudy, thank God it didn’t turn into rain.

bento-lunch

uenopark1

uenoparkturtle

Satisfied with our lunch (of course because the chicken katsu I had was huge!), we took a stroll around the park, heading to the zoo. I always enjoy visits to the park because it always feels nice to be surrounded by the trees and to see other people enjoying the park as well.

uenopark3

uenopark2

Ueno Zoo was built in the 19th century, and the ticket price is JPY 600. For now, the most popular animal is the big panda, Shin Shin. Yes, we got to see him having his lunch.

uenozoo-2

uenozoo-4

uenozoo-6

uenozoo-5

The zoo was pretty big, and walking around it got my legs really, really tired. But it was fun! I always love seeing many kinds of animals 🙂

uenozoo-1

There’s nothing much to write about my trip to Yokohama because I basically went there only to see WINNER (you can find the fan-account here). I also spent the last day in Tokyo in Shibuya again, and I won’t write it because it would be boring. All in all, it was another fun, memorable trip to Tokyo. I got to visit places I had never visited before, saw many interesting stuffs, went to WINNER’s concert and truly spent the precious moment with the people I love. I’m planning to visit Japan again, but this time I wanna go to Osaka and Kyoto since I’ve never been there. Hopefully next year, I’m still looking for the perfect time. But for now, let’s work hard and save hard!


1 Comment

80 Tokyo Trip 2015 (part 1)

Last September, I went to Japan to attend my little brother’s graduation. I was so excited because I thought it would be full autumn there with its yellow and orange trees. But it’s not autumn yet, people. It’s still a transition from summer to autumn, and sometimes the weather was still hot. I had to abort my mission to take a dramatic selfie with a setting of fallen leaves.

This time I went with mom, and my brother and I decided that we would take her to places that show the two sides of Tokyo, the metropolitan and the traditional. We included  Shibuya, Harajuku, Asakusa, Ueno and Yokohama to our itinerary.

Our flight was at 9.30 PM from Soekarno Hatta. Actually I booked our tickets via Garuda Indonesia website, but then we flew with ANA, Garuda’s partner. The flight attendants were really nice and helpful, but to be honest, I still prefer to fly with Garuda because the food is more of my taste. Anyway, the flight was hella bumpy I couldn’t sleep! I kept holding my mom’s hand and kept reciting any prayer that I could remember at that time. It was that terrifying. And when I was being really anxious, I looked to my left and found the woman next to me was peacefully sleeping. Even snoring … Thankfully, the plane landed safely in Haneda, earlier than the schedule in fact! Without any problem, we passed the immigration and customs. After my brother and his wife came to pick us up, we took the train to their apato in Kita-Ayase, around an hour from Haneda.

ticket

My bro’s apato was in the suburb of Tokyo, so it’s still kinda quiet. In front of it there’s Big A supermarket and it’s only ten minute walk from Kita-Ayase station. Everyday we walked to and fro the station, and although it felt heavy at first, we later felt the good effects for our health. Arriving there, we decided to have lunch first while waiting for the courier to deliver my pre-ordered modem. Based on a friend’s recommendation, I rented a modem from Pupuru. Actually wi-fi was provided in the apato but I knew we would go out a lot, so I chose to rent with the cost of 400 JPY per day. At eleven, the courier came, right on time. Later, I just had to put the modem and its charger into a provided envelope and put it into a post box.

Day 1:

Even though we’re still worn out due to lack of sleep, after lunch we went straight to Omotesando (I like the atmosphere here but the stores are not for my wallet apparently). My main destination is Magnolia Bakery in GYRE (the nearest station is Meiji-jingumae Station). The store isn’t big but when we came it’s quite packed. I really wanted to go there because I’d like to taste the famous banana pudding. And it’s worth it! Though it looks messy, it is soooo scrumptious. A kind of delicious that will last long in your mouth. Its combination of biscuit, creme, vanilla and bits of banana is just right. It’s too good I don’t even know how to describe it!

magnoliapudding

The price is 660 JPY for the small size and 880 JPY for the large one. Pricey indeed, but if you like banana flavoured sweets, it’s a must try.

A green spot in Harajuku.

A green spot in Harajuku.

Afterward, we walked to Harajuku since my mom and sister in law wanted to check Daiso and the branch there is big. Because it’s public holiday, Harajuku was freaking crowded. We didn’t stay long there and headed to Meiji Jingu shrine in Shibuya. It’s located inside a park, 20 minutes from the gate. What a coincidence by the time we arrived there was a wedding procession going on.

meiji-jingu-2

As the day was getting darker, we made our last stop in Shibuya. Of course I must visit Tower Records! We also showed Hachiko and the famous Shibuya crossing to mom. Probably some of you who have visited Tokyo a couple of times are already bored with Shibuya, but not me. I always love the vibe of the area.

meiji-jingu-wedding

Day 2:

We already left the apato at seven and our destination was the Turkish mosque in Yoyogi (3 minutes from Yoyogi Uehara station). When we arrived, the mosque was already full but we still got space and could join the first session of Ied prayer. After that, we went to Asakusa. Besides shops that sell souvenirs and traditional food, in Asakusa you could also find a shrine. Here you could get a fortune predicted by taking a piece of paper (the fee is 100 JPY). I tried it and thank God the prediction was excellent 🙂

asakusa1

taiyaki

Asakusa2

We continued our journey to Ueno Park! Unfortunately the museum I wanted to visit, National Museum of Western Art, was closed for renovation or something. So I decided to join my family to National Museum of Science and Nature. To be frank, I wasn’t really impressed by the science part, but the nature part was alright. The museum is divided into two main buildings, the Japanese collection and the international collection. I personally enjoyed the Japanese collection more, even though it’s quiet there and kinda creepy. When we went out of the museum, it’s drizzling so we directly headed home.

museum-1

museum-3

museum-4

museum-5

Oh, but we stopped at Chococro at Kitasenju station to get some croissant and milk tea. The choco-orange croissant was the bomb.

chococro

Also, finally tasted it for the first time and instantly in love. It’s the best thing ever from Starbucks!

sbux-pumpkinpie

(to be continued)


1 Comment

54 [REVIEW] Hotel The 101 di Yogyakarta

Tanggal 9-11 April lalu gue sempet liburan ke Yogyakarta. Karena bareng nyokap, gue memutuskan untuk menginap di hotel yang bagus dan nyaman buat orang tua. Setelah menimbang dan memerhatikan kondisi keuangan, gue memilih untuk tinggal di The 101. Dari foto-fotonya, eksterior dan interior hotelnya terlihat oke, dan sebagian besar ulasan juga bilang kalo layanan hotelnya bagus. Dan yep, gue puas banget menginap di The 101 🙂

The101-8

Gue memesan kamar lewat Traveloka, dapet kamar Deluxe dengan 1 Queen Bed menghadap kolam renang. Karena gak mau repot, gue juga memesan kamar yang langsung dapat sarapan (jelas lebih mahal tapi gak nyesel!).

The101-1

Salah satu ulasan bilang kalau ukuran kamar The 101 sempit, tapi menurut gue ukurannya pas. Kalau lo bawa koper ukuran besar pun masih bisa mudah dibukanya. Desain interior kamarnya terbilang simpel dengan banyak cermin yang bikin kamar terlihat luas. Gue gak inget ada dekorasi bernuansa Jawa? Menurut gue sih kamar-kamarnya memang cenderung dirancang untuk terlihat modern, bukan tradisional.

The101-3

Pemandangan dari kamar 3011, adem ya?

The101-7

Ini kolam renangnya di malam hari. Just pretty! Waktu Jumat malam, ada band yang bawain lagu-lagu Top 40. Dari kamar gue kedengeran banget sih, tapi untungnya band-nya enak jadi gak begitu mengganggu. Waktu itu gue juga udah kecapean banget abis keliling seharian, jadi tetap bisa tidur walaupun ada suara genjreng-genjreng dari bawah.

The101-5

Oh iya, seperti tadi gue bilang, gue gak nyesel sama sekali harus tambah biaya untuk sarapan. Menu sarapan di The 101 bervariasi banget dan enak-enak! Ada sarapan Indonesia kayak bubur dan ketupat sayur, roti dan sereal untuk yang makan gak terlalu banyak pas sarapan, beberapa pilihan kentang, lauk dan sayur. Pokoknya lengkap! Kalau gak inget kondisi lambung mungkin gue udah nyobain semua jenis sarapan di situ :p

The101-6

Sarapan sambil menghadap kolam renang 🙂

Jarak dari The 101 ke Malioboro bisa dicapai jalan kaki (sekalian olahraga). Tapi gue yang pemalas ini memilih naik becak atau becak motor yang memang sudah disediakan oleh hotelnya. Masalah transportasi, di depan The 101 juga ada halte Trans Jogja yang jalurnya langsung ke Malioboro, Prambanan dan bandara Adi Sucipto.

The101-2

Kekurangan dari hotel ini adalah pembatas antar kamar yang kurang tebal jadi suara orang dari koridor bisa terdengar. Ini yang mengganggu kalau kita udah mau tidur terus di koridor masih ada yang jalan-jalan atau cekikikan (orang kan yang cekikikan, bukan yang lain …?)

Overall, I really enjoyed my stay there. Pulang ke kamar hotel yang nyaman setelah lelah berjalan seharian keliling Malioboro dan komplek Prambanan itu nikmat banget, and The 101 Yogyakarta Tugu provided us that!


Leave a comment

45 Port Cities and Me

I was born in Balikpapan, a city in East Borneo, and spent four years there before my family moved southward to Tanjung. From my house in Balikpapan, I could see the sea and the ships moving to and leaving the port. I think that scenery somehow grew in me and stayed in my brain.

Hongkong1

I hadn’t realized my fondness to port cities until I came to Hong Kong in 2013. Taking a bus from the airport, I witnessed a lot of big ships with sunset as the backdrop. It was such a splendid image I said to my self, “I’m gonna love this city.” And yes, I do, especially after I went to Avenue of Stars the next day. For some people there might not be something special from that spot, but I found myself amazingly in awe. When seeing the ships and the skyscrapers in front of me, I was strucked. I even almost cried because it was too beautiful (but I tried to hold the tears since there were too many people). Walking along the harbor was a nice experience too. And since it was in January the wind was pretty cold but I enjoyed each and every step I took at that place. Would love to go back to Hong Kong!

yokohama1

Another port city that has stolen my heart is Yokohama, where I celebrated my birthday last year. The moment I stepped out from the train station, I could already feel that the air was different from Tokyo. If Tokyo is basically odour-less, Yokohama smells of the sea. I managed to walk along the harbour too, inhaling the fresh sea breeze. The day was sunny but the wind was still quite strong. When we had our lunch in the park we had to brave the wind (and also the seagulls!). Eating while shivering was tough but unforgettable indeed 😀 Planning to go back to Japan this September for my bro’s graduation with my mom. I must take her to Yokohama for sure!

Yokohama2

You can categorize Singapore as a port city too actually, but so far I haven’t found a great spot to see the ships in Singapore. Any idea?

Visiting port cities as many as possible, maybe I should add that in my bucket list!


Leave a comment

44 Menginap di Tokyo dan Kawaguchiko

Kalau bepergian, gue bukan orang yang terlalu bawel untuk urusan akomodasi. Gue gak masalah kalau harus tinggal di dorm hostel, asalkan kasurnya enak ditiduri dan kamar mandinya bersih. Dua kali ke Jepang, gue pun tinggal di hostel/guest house karena memang harganya lebih cocok buat kantong gue. Semurah-murahnya harga kamar dorm di Tokyo sih sama aja kayak harga hotel bintang tiga di Bangkok. Total sudah empat hostel yang gue tinggali di Jepang, tiga di Tokyo dan satu di Kawaguchiko. Berikut ulasan singkat beserta foto-fotonya.

Toco Heritage Hostel, Tokyo

toco2

Waktu ke Tokyo tahun 2013, tujuan gue untuk nonton Tohoshinki di Tokyo Dome jadi gue memilih untuk tinggal di Toco yang berjarak beberapa stasiun saja dari Tokyo Dome. Dari stasiun Iriya, Toco bisa dicapai dengan jalan kaki sekitar 5 menit. Ke Ueno, pusat perbelanjaan dan taman kota, hanya berjarak jalan kaki 15 menit.

toco1

Kelebihan dari Toco adalah nuansa arsitektur tradisional yang ditawarkan. Lantainya dari kayu (yang kadang suka berderit kalau diinjak) dan di taman ada tumpukan batu, yang kata pemiliknya berasal dari gunung Fuji. Kalau pagi udara di Toco seger banget karena lumayan banyak pohon. Pemilik dan pengurus Toco juga lancar bahasa Inggrisnya jadi gak ada masalah dalam berkomunikasi (sampai saat ini bahasa Jepang gue masih sangat terbatas soalnya, maaf huhuhu). Kalau mau nyari sarapan juga mudah karena ada minimarket yang berjarak 5 menit saja.

toco3

Sayangnya Toco punya jam malam untuk urusan mandi. Jadi buat kamu yang doyan mandi malam (ya kali aja), peraturan ini sepertinya akan memberatkan. Satu lagi, kalau malam lobi Toco berubah jadi bar. Memang dari dorm cewek suara-suara dari lobi gak terlalu kedengeran, tapi kalau kamu gak suka keramaian mungkin ini juga akan jadi masalah.

Yadoya Guesthouse, Tokyo

Gue memilih Yadoya karena mudah dijangkau dari Yoyogi National Stadium, tempat konser 2PM tahun lalu. Stasiun terdekat Nakano bisa dicapai dalam waktu 5 menit saja. Tapi karena waktu itu suhunya sempat 8°c, gue si gadis tropis ini jadi jalan males-malesan dan butuh waktu lebih lama untuk sampe ke stasiun. Di depan Yadoya ada minimarket dan di ujung jalan ada kantor pos kalau kamu mau kirim kartu pos atau menarik uang dari ATM. Yadoya juga berjarak 10 menit dari pusat perbelanjaan dan jajanan Nakano.

yadoya1

Waktu itu gue tinggal di kamar privat untuk dua orang. Di sini gak enaknya Yadoya karena kamarnya kecil banget. Untuk packing aja gue harus gantian sama temen gue. Harganya juga murah sih jadi gak bisa nuntut banyak. Wastafel yang di lantai gue juga gak ada air panasnya, jadi buat wudhu sholat subuh gue harus ke wastafel lantai bawah.

K’s House Mount Fuji, Kawaguchiko

khousefuji2

Kawaguchiko adalah kota di kaki gunung Fuji. Bersih, damai tapi dinginnya minta ampun karena gue ke sana pertengahan Maret. Sisa-sisa salju pun masih ada. Di kota ini kami tinggal semalam di K’s House. Kami tidur di kamar untuk empat orang. Kamarnya besar, cukup buat dua bunk bed dan ada space yang luas di antaranya. Kamar mandinya bersih dan ruang bersamanya juga gede. Selain itu, K’s House juga menyewakan sepeda karena cara terenak untuk mengelilingi kota ya dengan sepeda.

khousefuji1

Kekurangannya apa ya? Sejauh ini gue merasakan gak ada sesuatu yang mengecewakan dari K’s House. Tempatnya sangat nyaman dan pemiliknya ramah 🙂 Oh iya, jarak dari K’s House ke stasiun cukup jauh jadi sebaiknya minta dijemput saja.

K’s House Asakusa, Tokyo

Pulang dari Kawaguchiko, kami tinggal di cabang K’s House di Asakusa. Di depannya ada 7-11 dan jalan kaki lima menit ada restoran gyudon 24 jam. Stasiun terdekatnya adalah Kuramae dan bisa dicapai dalam waktu sekitar 5 menit jalan kaki. Ke Asakusa-nya cuma 15 menit jalan kaki.

Begonya gue lupa untuk foto kamar di cabang Asakusa ini padahal gue nginep dua malam di sana! Jadi lihat fotonya di situsnya aja ya. Yang pasti kamar untuk tiga orangnya bernuansa biru, nyaman dan ada televisinya kalau berminat nonton acara TV Jepang yang terkadang suka ajaib.