Confettis of words

the bits and sketches in life


Leave a comment

110 My 2017 Tokyo Trip

Tahun 2017 ini gue balik lagi ke Tokyo untuk nonton konser SHINee. Tadinya pengen jalan-jalan keluar Tokyo juga, tapi karena cuma empat hari dan berangkat sendirian, akhirnya gue memutuskan untuk mengeksplor tempat-tempat yang belum pernah gue kunjungin sebelumnya di Tokyo. Belajar dari pengalaman tahun 2014 (pas gue berangkat di awal musim semi juga), kali ini gue mempersiapkan coat yang lebih tebal dan panjang dan juga membawa pelembab dengan tingkat kelembaban yang lebih tinggi. Tetap aja sih udara dinginnya sampe bikin kulit di ujung hidung gue mengelupas sedikit, tapi lebih mendingan lah dibandingkan tahun 2014 pas kulit muka gue jadi kering banget nget.

blog-1

Lounge di Oak Hostel Zen

Atas rekomendasi adek ipar gue, gue menginap di Oak Hostel Zen di daerah Uguisudani. I truly enjoyed my stay there! Hostelnya bersih, kamar dorm-nya gede, stafnya baik-baik dan sangat membantu, dan lokasinya hanya berjarak lima menit jalan kaki dari stasiun Uguisudani (Yamanote line). Dari airport sekitar 40 menit dan gue hanya berganti jalur sekali saja.

Cari makan di daerah ini juga mudah. Ada Family Mart yang posisinya dekat sekali dengan hostel, dan kalau jalan kaki ke arah stasiun ada Lawson. Beberapa restoran ramen dan soba juga mudah ditemukan. Taman Ueno juga dekat loh dari Oak Hostel Zen, jalan kaki 15 menit saja. Dan dari Taman Ueno sudah dekat ke pusat perbelanjaan Ueno dan beragam restoran bisa ditemukan di sini.

blog-15

The dining room

Setelah check-in dan makan siang, gue memutuskan untuk jalan-jalan ke Taman Ueno. Tujuan utamanya National Museum of Western Art. Tahun 2015 lalu gue gagal ke sana karena mereka sedang renovasi besar-besaran. Sejujurnya gue agak heran perbaikannya di sebelah mana karena interior dalam museumnya biasa aja? Tapi koleksi tetapnya lumayan oke sih. Alhamdulillah akhirnya bisa ngeliat lukisan Miro dan Monet dari dekat. Oh iya, tiket masuk untuk koleksi tetapnya hanya ¥430 saja.

monet

Yang lebih berkesan buat gue adalah The National Art Center, Tokyo. Arsitektur gedungnya bagus dengan langit-langit yang tinggi dan rangka jendela yang terlihat kokoh. Dua pameran yang gue incer adalah pamerannya Yayoi Kusama dan Alphonse Mucha. Harga tiket masing-masing pameran 1600, tapi karena gue beli keduanya sekaligus dapat potongan harga 200 yen (lumayan buat beli minum). Stasiun terdekat dari NACT adalah Nogizaka, yang mempunyai akses langsung ke museum.

blog-14

Meskipun hari Senin, museum tetap ramai. Gue sampai harus mengantri 15 menit ketika membeli tiket masuk (dan mengantri 15 menit juga untuk bayar di toko goods-nya). Yang ramai dikunjungi tentu saja pameran Yayoi Kusama. Gue gak terlalu paham seni tapi memang lukisan-lukisan Yayoi Kusama itu sangat eye-catching. Warna-warnanya menarik dan the details are amazing. Gue juga sempat masuk ke The Infinity Room, yang sempet bikin gue panik karena di tengah-tengah ruangan lampunya mati? I dunno, mungkin itu bagian dari pamerannya.

blog-6

blog-10

Lukisan-lukisan Alphonse Mucha bikin gue mangap terkagum-kagum (gak usah dibayangin) saking gedenya. Karena ukurannya yang luar biasa itu, gue mikir gimana caranya lukisan-lukisan itu dibawa dari Praha ke Tokyo. Ternyata lukisannya digulung, dan ini sempat menyebabkan kontroversi di rakyat Ceko yang takut lukisan Mucha bakal rusak. As you can see, itu gede-gede banget. Yang gue paling suka sebenarnya adalah warna-warna dreamy pastel yang digunakan Mucha (beda banget sama poster-posternya yang warnanya lebih tegas).

blog-8

Btw, salmon sandwich di Cafeteria Carre enak banget! Kopinya juga oke, jadi setelah puas liat-liat pameran dan lapar, coba deh makanan dan minuman di kafenya. Ada beberapa restoran lain di NATC, tapi kafe ini yang harganya terjangkau.

Sehari sebelum konser seorang teman mengajak gue main ke Daikanyama (satu stasiun dari Shibuya). Di daerah ini banyak toko-toko kecil hip yang harganya sebenarnya mahal-mahal juga. Tujuan utama kami adalah Daikanyama T-site, versi mewah dari toko Tsutaya. Konsepnya adalah perpustakaan, tapi ada juga buku-buku dan majalah yang bisa kita beli. Koleksi bukunya kebanyakan buku seni dan fotografi. Di lantai bawahnya terdapat Starbucks kalau kita ingin baca-baca sambil ngopi.

blog-3

blog-4

Sebelum konser (fan-account konsernya bisa dibaca di blog lain ya), gue sempet menghabiskan waktu di Omotesando yang memang dekat dari Yoyogi. Adek gue ngajak makan ke restoran Heiroku Sushi yang sebenarnya enak, tapi harganya lebih mahal dari Hama Zushi. Memang beda sih, kalau ini kan restoran sendiri, Hama Zushi is a chain restaurant. Tapi setelah dihitung-hitung harganya kayak harga Sushi Tei di Indonesia. (Setelah makan siang tentu saja kami ke Magnolia Bakery untuk banana pudding-nya yang fenomenal!)

sushi-omotesando

Empat hari memang gak cukup untuk menjelajahi Tokyo. Tentu saja gue pengen kembali ke Jepang (untuk Tohoshinki Dome Tour mungkin?), dan lain kali coba konser di tempat lain ya, Yu. Osaka kek gitu, biar bisa jalan-jalan di tempat baru. Even though it was short, it was a fun trip! I went to an awesome, memorable concert, visited amazing exhibitions, met new people and enjoyed my solitary time as well.

blog-13

ps 1: walaupun cerah, anginnya nusuk banget sampe ke tulang pipi. Lesson learned, lain kali bawa masker dan beanie sekalian.

ps 2: tumbenan gue gak menggila di Loft, alhamdulillah uang selamat ya.


2 Comments

87 My Concert Story: venues in Tokyo and Yokohama

Menonton konser di Jepang membutuhkan persiapan yang matang dan dana ekstra, tapi buat gue semua itu terbayarkan dengan pengalaman. Gue beberapa kali menonton konser di Jepang dan selalu terkesan dengan betapa rapi dan terorganisirnya alur antrian penonton. Hal lain yang gue suka, Jepang punya bermacam-macam venue, mulai dari ukuran besar (Dome) sampai ke yang ukuran kecil seperti Zepp.

tokyodome

Tokyo Dome adalah satu-satunya Dome yang pernah gue kunjungi, saat itu untuk konser “Time Tour”-nya Tohoshinki tahun 2013. Buat gue atmosfer Tokyo Dome sendiri  memang luar biasa, pas banget untuk konser berskala masif. Yang bikin tambah merinding ketika itu adalah cahaya dari lightstick Bigeast yang membuat Tokyo Dome menjadi samudera berwarna merah. Meskipun begitu, Tokyo Dome bukan venue favorit gue karena ya itu, terlalu besar. Waktu itu gue dapet kursi di lantai dua dan cuma bisa ngeliat Yunho dan Changmin dari layar saja hahaha. Kalau dapet kursi di floor sih enak ya, tapi biasanya wilayah itu khusus buat anggota fanclub Tohoshinki. Memang kalau pengen menyaksikan konser dengan tata panggung yang canggih dan megah, Tokyo Dome tempatnya. Tapi kalau mau melihat penampilnya dengan jelas, sebaiknya ke venue yang lebih kecil, misalnya di arena.

Stasiun terdekat: Suidobashi dan Korakuen
Fasilitas lain: Tokyo Dome Hall untuk konser skala kecil, taman bermain, mal LaQua, mal Meets Port, Tokyo Dome Hotel

yoyogi-stadium

Kali kedua gue ke Jepang, gue berkesempatan nonton di venue berukuran arena, Yoyogi National Gymnasium, kali ini konser Genesis of 2PM tahun 2014. Venue ini juga asik karena letaknya yang strategis. Harajuku dan Shibuya bisa dicapai dengan jalan kaki, jadi sebelum menonton konser bisa jalan-jalan dulu. Gue mengkategorikan Yoyogi National Stadium sebagai venue berukuran sedang. Walau gue duduk di lantai dua, gue masih bisa tuh melihat panggung dengan jelas. Serunya lagi, di luar pagar stadion, banyak sekali penjaja makanan tradisional Jepang. Sambil menunggu konser mulai, kita bisa duduk-duduk di tangga batu sembari mencicipi takoyaki atau dango. Sejauh ini gue gak ada keluhan berarti sama Yoyogi National Gymnasium, buat gue venue ini nyaman banget baik dari segi ukuran maupun fasilitas.

Stasiun terdekat: Meiji Jingumae
Fasilitas lain: dekat dengan taman Meiji Jingumae, Harajuku dan Shibuya

kanagawa

Venue yang lebih kecil adalah hall, misalnya Kanagawa Kenmin Hall di Yokohama. Tahun lalu gue nonton tur Jepang WINNER di venue ini. Walau berada di luar Tokyo, tapi posisinya hanya berjarak jalan kaki lima menit dari stasiun. Area menunggu di venue ini cukup nyaman. Kita bisa menikmati secangkir kopi dari Doutor (tepat di sebelah venue) sambil menikmati angin laut Yokohama yang sejuk. Karena ukuran venue yang kecil, lantai tiga pun tidak terasa terlalu jauh dengan panggung. Mata minus gue masih bisa melihat dengan nyaman ke panggung. Nah, yang gak serunya dari venue ini adalah ukuran panggung juga kecil. Terasa sekali aksi panggung juga menjadi tidak begitu leluasa karena keterbatasan panggung. Lain kali pengen nonton tur Jepang WINNER lagi, dan semoga mereka berkesempatan mendapatkan venue dan panggung yang lebih besar.

Stasiun terdekat: Motomachi-Chugakai
Fasilitas lain: lima menit jalan kaki dari Chinatown Yokohama

800px-Zepp_Tokyo

Source: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Zepp_Tokyo.jpg#

Beralih ke venue yang lebih kecil lagi, yaitu Zepp Tokyo. Gue pernah sekali ke venue ini untuk nonton showcase MBLAQ. Jarak ke panggung deket banget, gue sampai bisa melihat keringat Seungho! (gak juga sih) Tapi untuk showcase/fanmeeting yang banyak melibatkan interaksi dari penonton, Zepp memang cocok. Walau kecil, gak usah takut untuk berdesak-desakan di Zepp karena area berdiri diberi sekat-sekat yang nyaman untuk disandari. Yang sedikit merepotkan adalah Zepp Tokyo berada di Odaiba, jadi cukup membutuhkan waktu untuk pergi dari pusat Tokyo ke venue tersebut. But if you want to attend a concert or showcase with intimacy, Zepp is the place.

Stasiun terdekat: Tokyo Teleport
Fasilitas lain: Ferris Wheel, DiverCity Tokyo Plaza

Lain kali kalau ke Jepang, gue pengen banget nyoba nonton di venue lain di luar Tokyo, misalnya di Kyocera Dome (Osaka) dan Yokohama Arena. Semoga bisa ya, tahun 2017 ke Jepang buat konser kembalinya Tohoshinki, amiiin 🙂

(Untuk post berikutnya gue akan membahas venue-venue lain yang gue pernah kunjungi di Singapura, Bangkok, Hong Kong dan Vietnam)


Leave a comment

81 Tokyo Trip 2015 (part 2)

Day 3:

It’s my brother’s graduation today so we all went to Tokyo Daigaku. It started drizzling since early in the morning and stayed that way until late afternoon. I mean it didn’t rain hard but since it lasted long it’s kinda annoying. Anyway, the graduation ceremony was held only in a small hall. Different from graduation ceremony in Indonesia that usually lasts for hours and is full of many speeches, the one that I attended in Tokyo was short. It started at 10 and finished at 11.15.

todai-2

todai-3

todai

After the graduation, we went to Ginhachidon for lunch. It’s a restaurant that serves rice with seafood on its top, located across the university. I ordered rice with salmon, minced tuna and scallions for JPY 500. The tuna wasn’t cooked but it tasted really fresh. The rice was served with miso soup, as you can see in the photo.

ginhachidon

The next place that we visited was Ginza, since I had never been there and I’d like to go to Loft. Different from Loft in Shibuya that consists of many levels, the one in Ginza only has one level. As expected, I went crazy there and bought many stuffs, from make-up to notebooks. I could spend hours only in Loft, to be honest! Muji is also right on the top of Loft, and this one in Ginza also has Muji cafe. We also stopped at the biggest branch of Uniqlo here in Tokyo. Since it offers many choices, I surrendered to the temptation and bought a pop-art bag and a skirt *sigh*

atginza

My brother had a plan to visit one cafe everyday before we left Tokyo, and today we had some coffee at Doutor, still in Ginza. For this autumn, they serve Marron Latte, coffee with chestnut syrup. It’s too sweet for my taste actually, but it’s quite comforting for the rainy day. This branch of Doutor  isn’t really big but I found it comfortable since it’s not located in the main street thus the atmosphere is calm and quiet.

doutorginza

doutor

That day we had dinner at Hamazushi in Kita Ayase, 20 minute walk from my brother’s apartment. It’s a sushi restaurant that sells sushi for JPY 100 per plate! It was delicious, and I think we ate around 30 plates (the people at the table next to us ate around 70 plates. CRAZY)? I also ate sea urchin sushi for the time, recommended by my sister in law. I didn’t like it hahaha. The highlight from the dinner was actually the dessert, egg pudding. The pudding was so soft, creamy without being too thick. I could eat this everyday, really!

hamazushi2

hamazushi1

eggpudding

Day 4:

Since it’s bright outside, we decided to have picnic at Ueno Park and visit Ueno Zoo! We bought our lunch at a supermarket then after that we’re looking for a nice place to sit and eat. We found a perfect spot near the pond. Even though it’s turning cloudy, thank God it didn’t turn into rain.

bento-lunch

uenopark1

uenoparkturtle

Satisfied with our lunch (of course because the chicken katsu I had was huge!), we took a stroll around the park, heading to the zoo. I always enjoy visits to the park because it always feels nice to be surrounded by the trees and to see other people enjoying the park as well.

uenopark3

uenopark2

Ueno Zoo was built in the 19th century, and the ticket price is JPY 600. For now, the most popular animal is the big panda, Shin Shin. Yes, we got to see him having his lunch.

uenozoo-2

uenozoo-4

uenozoo-6

uenozoo-5

The zoo was pretty big, and walking around it got my legs really, really tired. But it was fun! I always love seeing many kinds of animals 🙂

uenozoo-1

There’s nothing much to write about my trip to Yokohama because I basically went there only to see WINNER (you can find the fan-account here). I also spent the last day in Tokyo in Shibuya again, and I won’t write it because it would be boring. All in all, it was another fun, memorable trip to Tokyo. I got to visit places I had never visited before, saw many interesting stuffs, went to WINNER’s concert and truly spent the precious moment with the people I love. I’m planning to visit Japan again, but this time I wanna go to Osaka and Kyoto since I’ve never been there. Hopefully next year, I’m still looking for the perfect time. But for now, let’s work hard and save hard!


1 Comment

80 Tokyo Trip 2015 (part 1)

Last September, I went to Japan to attend my little brother’s graduation. I was so excited because I thought it would be full autumn there with its yellow and orange trees. But it’s not autumn yet, people. It’s still a transition from summer to autumn, and sometimes the weather was still hot. I had to abort my mission to take a dramatic selfie with a setting of fallen leaves.

This time I went with mom, and my brother and I decided that we would take her to places that show the two sides of Tokyo, the metropolitan and the traditional. We included  Shibuya, Harajuku, Asakusa, Ueno and Yokohama to our itinerary.

Our flight was at 9.30 PM from Soekarno Hatta. Actually I booked our tickets via Garuda Indonesia website, but then we flew with ANA, Garuda’s partner. The flight attendants were really nice and helpful, but to be honest, I still prefer to fly with Garuda because the food is more of my taste. Anyway, the flight was hella bumpy I couldn’t sleep! I kept holding my mom’s hand and kept reciting any prayer that I could remember at that time. It was that terrifying. And when I was being really anxious, I looked to my left and found the woman next to me was peacefully sleeping. Even snoring … Thankfully, the plane landed safely in Haneda, earlier than the schedule in fact! Without any problem, we passed the immigration and customs. After my brother and his wife came to pick us up, we took the train to their apato in Kita-Ayase, around an hour from Haneda.

ticket

My bro’s apato was in the suburb of Tokyo, so it’s still kinda quiet. In front of it there’s Big A supermarket and it’s only ten minute walk from Kita-Ayase station. Everyday we walked to and fro the station, and although it felt heavy at first, we later felt the good effects for our health. Arriving there, we decided to have lunch first while waiting for the courier to deliver my pre-ordered modem. Based on a friend’s recommendation, I rented a modem from Pupuru. Actually wi-fi was provided in the apato but I knew we would go out a lot, so I chose to rent with the cost of 400 JPY per day. At eleven, the courier came, right on time. Later, I just had to put the modem and its charger into a provided envelope and put it into a post box.

Day 1:

Even though we’re still worn out due to lack of sleep, after lunch we went straight to Omotesando (I like the atmosphere here but the stores are not for my wallet apparently). My main destination is Magnolia Bakery in GYRE (the nearest station is Meiji-jingumae Station). The store isn’t big but when we came it’s quite packed. I really wanted to go there because I’d like to taste the famous banana pudding. And it’s worth it! Though it looks messy, it is soooo scrumptious. A kind of delicious that will last long in your mouth. Its combination of biscuit, creme, vanilla and bits of banana is just right. It’s too good I don’t even know how to describe it!

magnoliapudding

The price is 660 JPY for the small size and 880 JPY for the large one. Pricey indeed, but if you like banana flavoured sweets, it’s a must try.

A green spot in Harajuku.

A green spot in Harajuku.

Afterward, we walked to Harajuku since my mom and sister in law wanted to check Daiso and the branch there is big. Because it’s public holiday, Harajuku was freaking crowded. We didn’t stay long there and headed to Meiji Jingu shrine in Shibuya. It’s located inside a park, 20 minutes from the gate. What a coincidence by the time we arrived there was a wedding procession going on.

meiji-jingu-2

As the day was getting darker, we made our last stop in Shibuya. Of course I must visit Tower Records! We also showed Hachiko and the famous Shibuya crossing to mom. Probably some of you who have visited Tokyo a couple of times are already bored with Shibuya, but not me. I always love the vibe of the area.

meiji-jingu-wedding

Day 2:

We already left the apato at seven and our destination was the Turkish mosque in Yoyogi (3 minutes from Yoyogi Uehara station). When we arrived, the mosque was already full but we still got space and could join the first session of Ied prayer. After that, we went to Asakusa. Besides shops that sell souvenirs and traditional food, in Asakusa you could also find a shrine. Here you could get a fortune predicted by taking a piece of paper (the fee is 100 JPY). I tried it and thank God the prediction was excellent 🙂

asakusa1

taiyaki

Asakusa2

We continued our journey to Ueno Park! Unfortunately the museum I wanted to visit, National Museum of Western Art, was closed for renovation or something. So I decided to join my family to National Museum of Science and Nature. To be frank, I wasn’t really impressed by the science part, but the nature part was alright. The museum is divided into two main buildings, the Japanese collection and the international collection. I personally enjoyed the Japanese collection more, even though it’s quiet there and kinda creepy. When we went out of the museum, it’s drizzling so we directly headed home.

museum-1

museum-3

museum-4

museum-5

Oh, but we stopped at Chococro at Kitasenju station to get some croissant and milk tea. The choco-orange croissant was the bomb.

chococro

Also, finally tasted it for the first time and instantly in love. It’s the best thing ever from Starbucks!

sbux-pumpkinpie

(to be continued)


Leave a comment

44 Menginap di Tokyo dan Kawaguchiko

Kalau bepergian, gue bukan orang yang terlalu bawel untuk urusan akomodasi. Gue gak masalah kalau harus tinggal di dorm hostel, asalkan kasurnya enak ditiduri dan kamar mandinya bersih. Dua kali ke Jepang, gue pun tinggal di hostel/guest house karena memang harganya lebih cocok buat kantong gue. Semurah-murahnya harga kamar dorm di Tokyo sih sama aja kayak harga hotel bintang tiga di Bangkok. Total sudah empat hostel yang gue tinggali di Jepang, tiga di Tokyo dan satu di Kawaguchiko. Berikut ulasan singkat beserta foto-fotonya.

Toco Heritage Hostel, Tokyo

toco2

Waktu ke Tokyo tahun 2013, tujuan gue untuk nonton Tohoshinki di Tokyo Dome jadi gue memilih untuk tinggal di Toco yang berjarak beberapa stasiun saja dari Tokyo Dome. Dari stasiun Iriya, Toco bisa dicapai dengan jalan kaki sekitar 5 menit. Ke Ueno, pusat perbelanjaan dan taman kota, hanya berjarak jalan kaki 15 menit.

toco1

Kelebihan dari Toco adalah nuansa arsitektur tradisional yang ditawarkan. Lantainya dari kayu (yang kadang suka berderit kalau diinjak) dan di taman ada tumpukan batu, yang kata pemiliknya berasal dari gunung Fuji. Kalau pagi udara di Toco seger banget karena lumayan banyak pohon. Pemilik dan pengurus Toco juga lancar bahasa Inggrisnya jadi gak ada masalah dalam berkomunikasi (sampai saat ini bahasa Jepang gue masih sangat terbatas soalnya, maaf huhuhu). Kalau mau nyari sarapan juga mudah karena ada minimarket yang berjarak 5 menit saja.

toco3

Sayangnya Toco punya jam malam untuk urusan mandi. Jadi buat kamu yang doyan mandi malam (ya kali aja), peraturan ini sepertinya akan memberatkan. Satu lagi, kalau malam lobi Toco berubah jadi bar. Memang dari dorm cewek suara-suara dari lobi gak terlalu kedengeran, tapi kalau kamu gak suka keramaian mungkin ini juga akan jadi masalah.

Yadoya Guesthouse, Tokyo

Gue memilih Yadoya karena mudah dijangkau dari Yoyogi National Stadium, tempat konser 2PM tahun lalu. Stasiun terdekat Nakano bisa dicapai dalam waktu 5 menit saja. Tapi karena waktu itu suhunya sempat 8°c, gue si gadis tropis ini jadi jalan males-malesan dan butuh waktu lebih lama untuk sampe ke stasiun. Di depan Yadoya ada minimarket dan di ujung jalan ada kantor pos kalau kamu mau kirim kartu pos atau menarik uang dari ATM. Yadoya juga berjarak 10 menit dari pusat perbelanjaan dan jajanan Nakano.

yadoya1

Waktu itu gue tinggal di kamar privat untuk dua orang. Di sini gak enaknya Yadoya karena kamarnya kecil banget. Untuk packing aja gue harus gantian sama temen gue. Harganya juga murah sih jadi gak bisa nuntut banyak. Wastafel yang di lantai gue juga gak ada air panasnya, jadi buat wudhu sholat subuh gue harus ke wastafel lantai bawah.

K’s House Mount Fuji, Kawaguchiko

khousefuji2

Kawaguchiko adalah kota di kaki gunung Fuji. Bersih, damai tapi dinginnya minta ampun karena gue ke sana pertengahan Maret. Sisa-sisa salju pun masih ada. Di kota ini kami tinggal semalam di K’s House. Kami tidur di kamar untuk empat orang. Kamarnya besar, cukup buat dua bunk bed dan ada space yang luas di antaranya. Kamar mandinya bersih dan ruang bersamanya juga gede. Selain itu, K’s House juga menyewakan sepeda karena cara terenak untuk mengelilingi kota ya dengan sepeda.

khousefuji1

Kekurangannya apa ya? Sejauh ini gue merasakan gak ada sesuatu yang mengecewakan dari K’s House. Tempatnya sangat nyaman dan pemiliknya ramah 🙂 Oh iya, jarak dari K’s House ke stasiun cukup jauh jadi sebaiknya minta dijemput saja.

K’s House Asakusa, Tokyo

Pulang dari Kawaguchiko, kami tinggal di cabang K’s House di Asakusa. Di depannya ada 7-11 dan jalan kaki lima menit ada restoran gyudon 24 jam. Stasiun terdekatnya adalah Kuramae dan bisa dicapai dalam waktu sekitar 5 menit jalan kaki. Ke Asakusa-nya cuma 15 menit jalan kaki.

Begonya gue lupa untuk foto kamar di cabang Asakusa ini padahal gue nginep dua malam di sana! Jadi lihat fotonya di situsnya aja ya. Yang pasti kamar untuk tiga orangnya bernuansa biru, nyaman dan ada televisinya kalau berminat nonton acara TV Jepang yang terkadang suka ajaib.


Leave a comment

11 My Tokyo Trip Day 1-3

Tadinya, gak kepikir sama sekali untuk ke Jepang tahun ini karena Januari lalu kan gue udah ke Hong Kong (berarti target gue untuk satu negara baru tiap tahun sudah terpenuhi sebenarnya). Tapi kemudian ketika seorang temen dari Filipina bilang kalo doi punya tiket ekstra untuk konser Tohoshinki di Tokyo Dome, langsung lah gue bilang gue mau. Akhirnya pergi deh ke Jepang. Awalnya sempet was-was, takut uangnya gak cukup, takut gak dapet visa. Alhamdulillah semua kekhawatiran gak terbukti. Dapetin visa Jepang ternyata gak sesukar yang dibayangkan. Walau cuma empat hari (karena hari pertama bener-bener abis di jalan) dan cuma di Tokyo, gue menikmati waktu gue di Jepang.

First day

Gue berangkat Kamis pagi tanggal 13 Juni. Jam setengah sepuluh-an udah sampe di LCCT padahal pesawat ke Tokyo baru berangkat nanti jam setengah tiga siang. Alhasil harus nunggu selama sekitar lima jam di bandara yang gak terlalu besar ini. Nothing to see basically. Ngapain aja ya gue? Berusaha untuk baca novel, tapi setelah dua bab berhenti. Kemudian minum kopi, makan kue dan dimsum, browsing berkat wi-fi gratis dan corat-coret di travel logbook Moomin yang selalu gue bawa. Then the next flight to Tokyo took about seven hours. Tujuh jam, gimana bokong gue gak tambah ceper hahaha. Anyway, setelah makan (lagi), corat-coret (lagi) dan ngeliatin berbagai orang di sekitar gue, tujuh jam pun terlewati. Akhirnya mendarat di Tokyo!

Walau menghabiskan waktu lebih dari dua belas jam di jalan, badan langsung seger lagi dong begitu menginjakkan kaki di Haneda. Setelah melewati imigrasi dan pemeriksaan bea cukai, rasanya pengen lari-lari keliling bandara saking senengnya. Norak memang, tapi masih gak percaya kalau gue sampe di Jepang 😀 Tambah seneng lagi pas liat adek gue udah jemput. Yep, yang bikin kekhawatiran gue berkurang selama di Tokyo adalah karena adek gue memang lagi kuliah di sana. He taught me about many things to survive in Tokyo. Termasuk penggunaan toilet canggih mereka. Silly but true, saking canggihnya gue sempet rada bingung tombol mana yang harus ditekan hahaha.

tokyotrip-toyoko

Malam itu gue dan adek gue memutuskan untuk nginep di Toyoko Inn, di salah satu cabangnya yang lumayan deket dari Haneda. Mereka juga menyediakan free shuttle bus dari bandara, jadi gak harus naik taksi yang katanya mahal itu. Kamar twin-nya lumayan, dan fasilitas kayak kulkas, piyama dan hair-dryer ada. Dapet sarapan juga, kalo di Toyoko Inn 1 menyediakan sarapan ala Jepang, kalo di Toyoko Inn 2 sarapan ala Barat. Pas di seberang hotel juga ada Family Mart, where you can always go for cheap meals teehee. Oh iya, hotel ini juga cuma berjarak beberapa langkah dari stasiun Otorii.

Second day

Besoknya kami udah harus check-out dari hotel dan karena check in di hostel baru nanti jam empat, gue minta diantar ke Shibuya. Tujuannya? Tower Records dong 😀 Dan akhirnya bisa menyaksikan sendiri riwehnya ketika seabrek orang menyebrang ke sana ke mari di lampu merah Shibuya. Things even got even more dramatic because at that time it was drizzling and people were using their transparent umbrellas. It reminds me of a movie scene. Sesampainya di Tower Records, kami langsung disambut sama MV-nya Infinite. Ternyata Infinite baru rilis album Jepang mereka. Pantesan poster dan CD mereka menuhin seisi toko. Kalau gak inget gue cuma bawa koper ukuran sedang (dan inget isi dompet tentunya), mungkin gue udah menggila di Tower Records hahaha.

tokyotrip-hachikowall

tokyotrip-shibuya

Setelah beli beberapa CD titipan temen dan DVD, akhirnya gue dan adek gue mutusin untuk cari tempat ngopi. Di Tower Records sebenarnya ada cafe juga, tapi kayaknya harganya di atas rata-rata. Akhirnya kami pun ngopi di sebuah cafe ala Prancis di Shibuya Marks. Sambil nunggu adek gue sholat Jumat di sebuah musholla mini yang sebenarnya ruangan apartemen di sekitar situ, gue mutusin muter-muter di Tsutaya, toko CD dan rental DVD juga. Di sini CD artis Jepang lebih lengkap kayaknya? Setelahnya, baru kami makan siang di Sukiya. Menunya mirip sama Yoshinoya, but they have beef bowl with cheese, yayyy!

Untuk malam-malam berikutnya, gue tinggal di Toco Heritage Hostel di daerah Iriya atas rekomendasi dari seorang fan Tohoshinki. Lokasinya di daerah perumahan jadi sepi banget kalo malam hari. Enak sih, jadinya gue bisa tidur dengan mudah. Tampak luar, Toco keliatan kayak rumah biasa aja. But once you got inside, suasana tradisional Jepang kerasa, karena memang sensasi ini yang mereka tawarkan. Untungnya sensasi tradisional ini gak dibarengi dengan wujud Sadako ya, alhamdulillah~

tokyotrip-tocotokyotrip-insideoutsidetoco

Pemandangan di halaman belakangnya. Pengurusnya bilang kalo beberapa batu dibawa dari gunung Fuji. Kalau pagi-pagi enak banget duduk-duduk di sini, walau lumayan banyak nyamuk karena sudah masuk musim panas.

tokyotrip-tocobackyard

Gue nginep di dorm khusus cewek, semalamnya 3,000 yen atau sekitar 300 ribu rupiah. Lumayan lah ya untuk ukuran Tokyo. And here’s my bunk, maaf masih berantakan karena sepreinya belum dipasang. Pas gue ke sana, ke-enam bunk terisi penuh. Penghuni lain asalnya dari Jepang, Korea (who was the nicest) dan juga Singapura. Ini pertama kali gue nginep di dorm campur sama orang asing. Awalnya agak jengah sih, tapi lama-lama ya santai aja. Pelajaran baru tentang toleransi.

tokyotrip-bunk

I had a great time staying there. Pengurusnya baik-baik dan bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris dengan lancar. Letaknya juga strategis, deket stasiun Iriya dan Uguisudani dan beberapa convenience store. Gue juga milih hostel ini karena hanya berjarak sekitar lima stasiun dari Tokyo Dome. Buat yang suka minum, kalo malem lobby hostel ini berubah jadi bar kecil.

Sorenya, gue jalan-jalan sendirian karena adek gue ada urusan di kampus. Gue memutuskan untuk ke Ueno karena (menurut peta) jaraknya yang deket dari hostel. Tapi ternyata pas dijabanin jalan kaki cape ya boooooo. Ueno itu mungkin kayak Blok M ya. Seru sih, dan gue nemu toko yang jual alat tulis yang lucu-lucu. Pas hari terakhir gue juga nemu restoran tempura enak banget di sini.

Third Day

Hari konsernya, dan otomatis gue menghabiskan banyak waktu di Tokyo Dome City-nya (mengenai konsernya sudah dibahas di blog lain ya, ahem). Tokyo Dome City itu komplek hiburan untuk semua umur sebenarnya. Selain ada Tokyo Dome-nya, juga ada mal, deretan restoran dan taman hiburan. Yang suka One Piece dan Naruto pasti seneng banget karena ada toko khusus majalah Jump.

Karena konser baru dimulai nanti jam enam, gue diajak adek gue ke kampus dia, Tokyo University. Kata dia sih bisa dicapai dengan berjalan kaki dari Tokyo Dome. Emang bisa dicapai siiiiiih, tapi capenya gak kira-kira. Konser belum mulai aja kaki gue udah mau copot >< But we had great lunch! Kali ini gue diajak makan di restoran nasi-nasian lagi, tapi dengan lauk ikan mentah atau hidangan laut lainnya. Gue mesen nasi dengan ikan tuna mentah dan taburan rumput laut di atasnya. Jauh dari amis, ikannya seger banget!

Berbagai makanan yang gue cicipin pas di Tokyo. Bahkan makanan di konbini-nya sukses bikin gue ngiler hahaha. Yang di pojok bawah itu green tea frappucino with brown sauce cream (kayak gula jawa sebenarnya) dari cafe Nana yang menyediakan berbagai olahan teh hijau. Salah satu cabangnya ada di Ueno.

tokyotrip-food

Setelah makan siang, gue pun memutuskan untuk mampir ke Tokyo University dulu. Gedung-gedungnya banyak yang kuno, agak mengingatkan gue sama ITB. Yang bikin nyaman adalah pohon ada di mana-mana, and in summer, they’re green and lush. Bicara musim panas, hari itu lagi panas banget. Dan salahnya gue lagi pake kemeja flanel, makin mantap lah itu kegerahan. But it was fun, the heat that I will always remember lol.

tokyotrip-todaitrees

Tapi secape dan segerah apa pun gue, ketika sampai di hostel gue juga gak bisa langsung tidur. Sampe bunk masih cengengesan gak jelas, knowing that I’ve seen Tohoshinki live in Tokyo Dome