Confettis of words

the bits and sketches in life


Leave a comment

111 My 2017 Hong Kong Trip

Setelah empat tahun akhirnya gue kembali lagi ke Hong Kong! Walaupun liburan kali ini hanya sebentar (tujuan gue sebenarnya untuk nonton konser SHINee), I enjoyed every minute of it. Tadinya sempat maju mundur, jalan gak ya? Karena gue baru balik dari Jepang, gue pikir secara finansial akan susah untuk pergi lagi karena biaya di Hong Kong memang tergolong mahal untuk Asia. Tapi setelah menghitung-hitung dan menghemat sana sini, akhirnya gue memutuskan untuk berangkat. Nekat aja deh ya, terus bulan depan nangis bayar tagihan kartu kredit hahaha.

blog-9

A bit cloudy but this is the view of this city that I always love.

Anyway, alhamdulillah biaya liburan kali ini bisa berhemat dari tiket pesawat. Untuk beberapa penerbangan langsung (gue sebisa mungkin menghindari penerbangan langsung karena makan lebih banyak waktu), harga tiket berkisar antara 5-6 juta rupiah. Setelah rajin mengecek beberapa airline dan biro perjalanan, gue akhirnya mendapatkan tiket China Airlines dengan harga setengah dari penerbangan langsung lainnya. Gue baru sekali naik China Airlines dan ternyata enak kok! Penerbangan pulang perginya lancar (jarang sekali ada guncangan) dan makanan khusus Muslim-nya enak! Oh iya, kalau ingin memesan menu khusus harus dua hari sebelumnya supaya bisa dimasukkan ke sistem mereka.

blog-7

Mencari akomodasi murah tapi enak di Hong Kong menurut gue susah-susah gampang. Di Hong Kong memang tanah terbatas dan harga penginapan bisa sangat mahal, dibandingkan dengan Bangkok contohnya. Gue pernah tinggal di hostel di daerah Mongkok dan kamar untuk satu orangnya kecil sekali. Kali ini gue nginep di Hop Inn Mody di daerah Tsim Sha Tsui. Gue memutuskan untuk nginep di sini karena lokasinya strategis (dari airport tinggal naik bus sekali) dan harganya lumayan. Gue memesan langsung di situs hostelnya dan biaya dua malamnya 486 HKD, atau dengan kurs sekarang sekitar 834 ribu. Dorm untuk perempuannya nyaman, ada jendela, dan kamar mandi juga ada di dalam. Hostel ini juga dekat dengan mal K11, coffee shop N1 dan beberapa 7-11. Jadi gampang banget nyari makanan di sini. Dari hostel ini juga bisa jalan kaki ke Avenue of Stars, mal terbesar di Hong Kong Harbour City dan masjid Tsim Sha Tsui. Selain itu, ada dua stasiun MTR di sekitar hostel, Tsim Sha Tsui dan East Tsim Sha Tsui. Location-wise, it’s very strategic.

blog-3

The female dorm in Hop Inn Mody

blog-2

The common room

Setiap liburan, ada 3 tempat yang selalu gue cari: toko buku, coffee shop sama museum/galeri. Dari hasil googling, gue menemukan di dekat Harbour City ada toko buku Eslite. Selain toko buku, Eslite juga menjual berbagai produk desain dan produk skin care lokal. Di dalamnya juga ada coffee shop dan juice bar. Buat gue tempat ini nyaman banget dan dari jendela tokonya, kita juga bisa melihat pemandangan di pelabuhan.

blog-6

blog-8

Untuk coffee shop, gue sempat ke chain lokal yang cabangnya ada di mana-mana, Pacific Coffee. Harga segelas iced coffee lattenya 34 HKD. Enak sih tapi menurut gue standar. Gue juga mampir ke The Coffee Academics di Harbour City. Nah kalau ini harga kopinya jauh lebih mahal (50 HKD) tapi memang mantap! Gue juga mesen cranberry scone (30 HKD) yang harganya nggak bohong. Tekstur scone-nya pas dan selai-nya juara!

blog-15

blog-16

nice quote, eh?

Gue juga nyoba sarapan ala Hong Kong di Tsui Wah (kebetulan ada cabangnya di Tsim Sha Tsui). Menu makanannya cukup beragam dan porsinya besar. Gue mesen set yang isinya telur urak-arik, sop makaroni, roti dan daging sapi asap. Kenyang banget pastinya. Gue juga ngerasain milk tea khas Hong Kong! Kalau ini rasanya terlalu kental buat gue.

blog-10

blog-17

Kebetulan liburan kali ini juga bertepatan dengan pameran Joan Cornellà. Pamerannya diselenggarakan di Space 27, dekat stasiun Quarry Bay. Pas sampai sana agak kaget karena ternyata tiketnya harus dibeli online! Gue langsung buru-buru beli tiketnya di situs Ticketflap dan untungnya tiketnya dalam bentuk digital jadi tinggal diunduh di hp. Karya Joan Cornellà banyak membahas isu-isu sosial masyarakat modern, terutama budaya selfie (as you can see from the statue). I actually found some of his works disturbing but overall it’s a great exhibition 🙂

blog-11

blog-13

blog-12

Lagi-lagi perjalanan singkat di Hong Kong, jadi gue belum sempat ke Disneyland dan Victoria Peak huhuhu. Lain kali pengen balik lagi dan jalan-jalan lebih lama!

(tentang konser SHINee-nya kalau gak males akan ditulis di post sendiri ya)


1 Comment

80 Tokyo Trip 2015 (part 1)

Last September, I went to Japan to attend my little brother’s graduation. I was so excited because I thought it would be full autumn there with its yellow and orange trees. But it’s not autumn yet, people. It’s still a transition from summer to autumn, and sometimes the weather was still hot. I had to abort my mission to take a dramatic selfie with a setting of fallen leaves.

This time I went with mom, and my brother and I decided that we would take her to places that show the two sides of Tokyo, the metropolitan and the traditional. We included  Shibuya, Harajuku, Asakusa, Ueno and Yokohama to our itinerary.

Our flight was at 9.30 PM from Soekarno Hatta. Actually I booked our tickets via Garuda Indonesia website, but then we flew with ANA, Garuda’s partner. The flight attendants were really nice and helpful, but to be honest, I still prefer to fly with Garuda because the food is more of my taste. Anyway, the flight was hella bumpy I couldn’t sleep! I kept holding my mom’s hand and kept reciting any prayer that I could remember at that time. It was that terrifying. And when I was being really anxious, I looked to my left and found the woman next to me was peacefully sleeping. Even snoring … Thankfully, the plane landed safely in Haneda, earlier than the schedule in fact! Without any problem, we passed the immigration and customs. After my brother and his wife came to pick us up, we took the train to their apato in Kita-Ayase, around an hour from Haneda.

ticket

My bro’s apato was in the suburb of Tokyo, so it’s still kinda quiet. In front of it there’s Big A supermarket and it’s only ten minute walk from Kita-Ayase station. Everyday we walked to and fro the station, and although it felt heavy at first, we later felt the good effects for our health. Arriving there, we decided to have lunch first while waiting for the courier to deliver my pre-ordered modem. Based on a friend’s recommendation, I rented a modem from Pupuru. Actually wi-fi was provided in the apato but I knew we would go out a lot, so I chose to rent with the cost of 400 JPY per day. At eleven, the courier came, right on time. Later, I just had to put the modem and its charger into a provided envelope and put it into a post box.

Day 1:

Even though we’re still worn out due to lack of sleep, after lunch we went straight to Omotesando (I like the atmosphere here but the stores are not for my wallet apparently). My main destination is Magnolia Bakery in GYRE (the nearest station is Meiji-jingumae Station). The store isn’t big but when we came it’s quite packed. I really wanted to go there because I’d like to taste the famous banana pudding. And it’s worth it! Though it looks messy, it is soooo scrumptious. A kind of delicious that will last long in your mouth. Its combination of biscuit, creme, vanilla and bits of banana is just right. It’s too good I don’t even know how to describe it!

magnoliapudding

The price is 660 JPY for the small size and 880 JPY for the large one. Pricey indeed, but if you like banana flavoured sweets, it’s a must try.

A green spot in Harajuku.

A green spot in Harajuku.

Afterward, we walked to Harajuku since my mom and sister in law wanted to check Daiso and the branch there is big. Because it’s public holiday, Harajuku was freaking crowded. We didn’t stay long there and headed to Meiji Jingu shrine in Shibuya. It’s located inside a park, 20 minutes from the gate. What a coincidence by the time we arrived there was a wedding procession going on.

meiji-jingu-2

As the day was getting darker, we made our last stop in Shibuya. Of course I must visit Tower Records! We also showed Hachiko and the famous Shibuya crossing to mom. Probably some of you who have visited Tokyo a couple of times are already bored with Shibuya, but not me. I always love the vibe of the area.

meiji-jingu-wedding

Day 2:

We already left the apato at seven and our destination was the Turkish mosque in Yoyogi (3 minutes from Yoyogi Uehara station). When we arrived, the mosque was already full but we still got space and could join the first session of Ied prayer. After that, we went to Asakusa. Besides shops that sell souvenirs and traditional food, in Asakusa you could also find a shrine. Here you could get a fortune predicted by taking a piece of paper (the fee is 100 JPY). I tried it and thank God the prediction was excellent 🙂

asakusa1

taiyaki

Asakusa2

We continued our journey to Ueno Park! Unfortunately the museum I wanted to visit, National Museum of Western Art, was closed for renovation or something. So I decided to join my family to National Museum of Science and Nature. To be frank, I wasn’t really impressed by the science part, but the nature part was alright. The museum is divided into two main buildings, the Japanese collection and the international collection. I personally enjoyed the Japanese collection more, even though it’s quiet there and kinda creepy. When we went out of the museum, it’s drizzling so we directly headed home.

museum-1

museum-3

museum-4

museum-5

Oh, but we stopped at Chococro at Kitasenju station to get some croissant and milk tea. The choco-orange croissant was the bomb.

chococro

Also, finally tasted it for the first time and instantly in love. It’s the best thing ever from Starbucks!

sbux-pumpkinpie

(to be continued)


Leave a comment

44 Menginap di Tokyo dan Kawaguchiko

Kalau bepergian, gue bukan orang yang terlalu bawel untuk urusan akomodasi. Gue gak masalah kalau harus tinggal di dorm hostel, asalkan kasurnya enak ditiduri dan kamar mandinya bersih. Dua kali ke Jepang, gue pun tinggal di hostel/guest house karena memang harganya lebih cocok buat kantong gue. Semurah-murahnya harga kamar dorm di Tokyo sih sama aja kayak harga hotel bintang tiga di Bangkok. Total sudah empat hostel yang gue tinggali di Jepang, tiga di Tokyo dan satu di Kawaguchiko. Berikut ulasan singkat beserta foto-fotonya.

Toco Heritage Hostel, Tokyo

toco2

Waktu ke Tokyo tahun 2013, tujuan gue untuk nonton Tohoshinki di Tokyo Dome jadi gue memilih untuk tinggal di Toco yang berjarak beberapa stasiun saja dari Tokyo Dome. Dari stasiun Iriya, Toco bisa dicapai dengan jalan kaki sekitar 5 menit. Ke Ueno, pusat perbelanjaan dan taman kota, hanya berjarak jalan kaki 15 menit.

toco1

Kelebihan dari Toco adalah nuansa arsitektur tradisional yang ditawarkan. Lantainya dari kayu (yang kadang suka berderit kalau diinjak) dan di taman ada tumpukan batu, yang kata pemiliknya berasal dari gunung Fuji. Kalau pagi udara di Toco seger banget karena lumayan banyak pohon. Pemilik dan pengurus Toco juga lancar bahasa Inggrisnya jadi gak ada masalah dalam berkomunikasi (sampai saat ini bahasa Jepang gue masih sangat terbatas soalnya, maaf huhuhu). Kalau mau nyari sarapan juga mudah karena ada minimarket yang berjarak 5 menit saja.

toco3

Sayangnya Toco punya jam malam untuk urusan mandi. Jadi buat kamu yang doyan mandi malam (ya kali aja), peraturan ini sepertinya akan memberatkan. Satu lagi, kalau malam lobi Toco berubah jadi bar. Memang dari dorm cewek suara-suara dari lobi gak terlalu kedengeran, tapi kalau kamu gak suka keramaian mungkin ini juga akan jadi masalah.

Yadoya Guesthouse, Tokyo

Gue memilih Yadoya karena mudah dijangkau dari Yoyogi National Stadium, tempat konser 2PM tahun lalu. Stasiun terdekat Nakano bisa dicapai dalam waktu 5 menit saja. Tapi karena waktu itu suhunya sempat 8°c, gue si gadis tropis ini jadi jalan males-malesan dan butuh waktu lebih lama untuk sampe ke stasiun. Di depan Yadoya ada minimarket dan di ujung jalan ada kantor pos kalau kamu mau kirim kartu pos atau menarik uang dari ATM. Yadoya juga berjarak 10 menit dari pusat perbelanjaan dan jajanan Nakano.

yadoya1

Waktu itu gue tinggal di kamar privat untuk dua orang. Di sini gak enaknya Yadoya karena kamarnya kecil banget. Untuk packing aja gue harus gantian sama temen gue. Harganya juga murah sih jadi gak bisa nuntut banyak. Wastafel yang di lantai gue juga gak ada air panasnya, jadi buat wudhu sholat subuh gue harus ke wastafel lantai bawah.

K’s House Mount Fuji, Kawaguchiko

khousefuji2

Kawaguchiko adalah kota di kaki gunung Fuji. Bersih, damai tapi dinginnya minta ampun karena gue ke sana pertengahan Maret. Sisa-sisa salju pun masih ada. Di kota ini kami tinggal semalam di K’s House. Kami tidur di kamar untuk empat orang. Kamarnya besar, cukup buat dua bunk bed dan ada space yang luas di antaranya. Kamar mandinya bersih dan ruang bersamanya juga gede. Selain itu, K’s House juga menyewakan sepeda karena cara terenak untuk mengelilingi kota ya dengan sepeda.

khousefuji1

Kekurangannya apa ya? Sejauh ini gue merasakan gak ada sesuatu yang mengecewakan dari K’s House. Tempatnya sangat nyaman dan pemiliknya ramah 🙂 Oh iya, jarak dari K’s House ke stasiun cukup jauh jadi sebaiknya minta dijemput saja.

K’s House Asakusa, Tokyo

Pulang dari Kawaguchiko, kami tinggal di cabang K’s House di Asakusa. Di depannya ada 7-11 dan jalan kaki lima menit ada restoran gyudon 24 jam. Stasiun terdekatnya adalah Kuramae dan bisa dicapai dalam waktu sekitar 5 menit jalan kaki. Ke Asakusa-nya cuma 15 menit jalan kaki.

Begonya gue lupa untuk foto kamar di cabang Asakusa ini padahal gue nginep dua malam di sana! Jadi lihat fotonya di situsnya aja ya. Yang pasti kamar untuk tiga orangnya bernuansa biru, nyaman dan ada televisinya kalau berminat nonton acara TV Jepang yang terkadang suka ajaib.